Alkisah adalah sebuah pulau bernama Linear. Kabarnya di pulau ini semua hal – dari fenomena alam sampai perilaku penduduk– semuanya mudah diramalkan. Tidak ada penyimpangan, tidak ada kejutan. Bila curah hujan hari ini 2 kali lipat lebih banyak dari hari kemarin, maka kenaikan tekanan air pori dalam tanah juga akan tepat 2 kali lipat lebih besar. Semua material yang ditemukan di pulau tersebut berperilaku linear elastis. Para pelajar di pulau ini tidak mempelajari metode numerik. Sebab tidak ada gunanya. Semua persoalan dapat dicarikan solusi analitiknya. Hal ini berlaku pula dalam masalah jual beli. Bila kacang 1 ons dijual seharga seribu, maka kacang 1 kg dijual sepuluh ribu. Tidak ada diskon. Lebih jauh lagi, perilaku manusia penghuni pulau tersebut pun semuanya serba dapat dianalisis. Di sekolah, para murid yang bersemangat belajar mendapat nilai yang lebih baik daripada mereka – mereka yang suka mencontek. Di tempat kerja, orang-orang yang berdedikasi umumnya lebih cepat mendapat promosi daripada mereka yang malas tapi pandai me-lobby. Di masyarakat luas, orang-orang yang berintegritas dan konsisten pada prinsip jauh lebih dihormati daripada mereka yang sok tahu, eksis dimana-mana dan pandai bicara. Tambahan lagi, penelitian di pulau tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang religius cenderung berperilaku lebih bermoral. Dan jangan harap menemukan pasangan suami-istri yang “unik” a la Cinderella disini. Pilihan orang-orang disini juga linear. Mereka yang berpendidikan umumnya memilih pasangan dengan taraf pendidikan seimbang, mereka yang berasal dari keluarga terpandang tak pernah berpikir untuk menikahi pelayan mereka, dan para om tidak pernah memasukkan gadis seumur anak mereka dalam daftar calon istri.
Rabu, 16 Sept 09. Hari ini pergi ke conference dengan tekad: mengajukan pertanyaan. Hitung-hitung utk mengecek seberapa keras suaraku di tengah ruangan. Juga untuk membuka kontak dengan pembicara. Keynote lectures hari ini oleh Shinozuka (reliability analysis of port –sepertinya dia tertarik pada suatu sistem yang kompleks, tidak lagi pada analisis detail suatu struktur secara individu misal 1 gedung), Melchers (bicara tentang corrosion, aku tidak terlalu ngerti, tapi teman2 yang bekerja di bidang offshore sepertinya antusias mendengarkan) dan Kiureghian (tentang seismic risk). Melchers dari Australia dan kalau-kalau rencana research visit dapat terlaksana, dia termasuk dalam daftar profesor yang ingin kukunjungi. Dalam keynote lecture nya, Kiureghian menganjurkan kami mendatangi session salah satu muridnya untuk mendapat informasi detail ttg topik mereka. Seperti apa ya rasanya menjadi murid orang selevel Kiureghian?
Di session pagi ada yang presentasi tentang subset simulation dan neural network. Student dari Greece. Rambutnya gondrong, pake kaos oblong. Proposal pdf yang dia pakai untuk subset nya berbeda dari yang biasa kupakai. Aku bertanya, apa dia menganjurkan proposal pdf tersebut untuk general application atau khusus untuk problem dia. Sesuai prediksiku, jawabannya untuk problem dia. Well, at least my statement that optimal proposal pdf is problem-dependent is not wrong. Suaraku lumayan keras juga rupanya. Cukup lega. Siangnya, melihat presentasi dari research fellow nya JC. Subset simulation for multiple limit states. Aku agak heran, kok presentasinya agak tidak jelas. Presenternya bilang perlu mencari suatu objective function untuk mewakili semua limit state yang ada. Tapi tidak menjelaskan gimana mencari objective function nya. Ditanya bukankah objective function itu hanya kombinasi minimum -maximum untuk series – parallel system, dia bilang sistemnya tidak seri maupun paralel. ?? Aku dan Dr Beer saling berpandangan dan mengerutkan kening. O ya, aku mengambil brosur yang tersedia di receptionist, dan ada brosur ICASP 11. ICASP ini conference yang sangat penting dalam structural reliability, selain ICOSSAR. Dan ICASP 11 akan diadakan thn 2011 di Swiss! Oh, oh, oh, how I want to come! Saat itu juga langsung berpikir gimana caranya bisa dapet dana untuk kesana, mau submit paper apa, dan berharap aku dapat datang kesana as a young research fellow or academics, no longer a student. Tapi kalau masih student, ICASP tentunya kesempatan yang baik untuk menebar CV.
Di perjalanan pulang ke hotel aku beli onigiri. Bertemu seorang bapak yang aneh dari India (ikut conference juga, kami berkenalan di saat lunch). Hiiii. Menghindari dia, aku ke supermarket dulu dan naik ke hotel dari lantai 1, tidak dari lantai 2 seperti biasanya. Terbirit-birit masuk kamar. Melanjutkan latihan presentasi lagi. Kali ini sambil berdiri di depan cermin. Sudah hafal apa yang mau dikatakan saking seringnya diulang. Durasinya sekitar 14 – 15 menit, aku menitin.
Kamis, 17 Sept 09. Akhirnya hari Kamis juga!!! Paginya lecture note Prof Torgeir Moan. Sudah tidak konsen mendengarkan, kepikiran presentasi. Session geoteknik yang pagi tidak sesepi yang kutakutkan, tapi entah kenapa pendengar seperti kurang antusias berdiskusi. To my dismay, Prof Honjo is not coming
Padahal aku berencana berkenalan dengannya. JC juga tidak nampak. Oh, well. Mungkin terlalu cepat untuk mengharapkan berkenalan dan memberikan CV pada conference pertama, ya. Ada dua orang student JC yang present, dan kedua paper ini ditulis bersama Prof P. Tentang Bayesian updating dan importance sampling. Presentasinya cukup baik, lebih genah dari yang research fellow kemarin. Tapi bagaimanapun, kesanku tentang JC menjadi agak kurang baik. Kesannya agak serampangan…
Setelah makan siang kilat, aku ke ruangan presentasi. Masih kosong. Mencoba bicara dan mendengar seberapa keras suaraku. Sebentar kemudian panitia dan moderator datang. Dr Beer juga dengan baik hati datang untuk melihat presentasiku. Kurasa aku presentasi dengan cukup baik. Ada 2 pertanyaan dan tidak sukar dijawab. Dr Beer mengacungkan jempol saat aku melihat ke arahnya. Wah, memang beda ya orang bule. Encouraging. Setelah presentasi, rasanya lega. Research fellow JC yang kemarin presentasi lagi. Lebih genah daripada yang kemarin.
Selesai presentasi, rasanya lega. Ada perasaan agak kecewa karena sedikit yang datang, tapi mencoba mengingatkan diriku untuk tidak terlalu banyak maunya
Di luar gedung bertemu dengan rombongan anak Norway yang ternyata sudah siap mau jalan2 ke kota (4 hari ini belum sempat lihat2 kota). Jadilah kami balik ke hotel untuk ganti baju terus jalan-jalan. Selain anak2 Norway, ada 1 anak HK yang ramah dan sudah hapal rute train dan bus Osaka dan Kyoto (mengingatkanku pada Chris, meski ternyata rute dia belum sekaliber Chris). Karena sudah sore menjelang malam, objek wisata sudah tutup, kami jalan2 di daerah Dotonbori, pusat makanan dan belanja oleh-oleh. Semarak dan luas sekali daerahnya. Mulai dari jejeran mall-mall besar, warung sushi, sampai pedagang kaki lima berjualan takoyaki, semuanya ada. Senang sekali melihatnya. Saat berjalan-jalan disitu, tiba-tiba saja aku jadi merasa begitu bersyukur. Di masa kecilku dulu, aku sering melihat dengan kagum pada orang-orang yang sekolah ke luar negeri. Dan sekarang aku juga mendapat kesempatan yang sama, plus bonus jalan-jalan dan berkenalan dengan teman-teman dari berbagai latar belakang.
Bila diminta membuat abstrak dari kesanku selama kunjungan ke Osaka minggu lalu, inilah yang terlintas di pikiran: aku merasa berada di jalan yang benar. Masih jauh dari tujuan, tetapi di jalur yang tepat. Menoleh ke belakang, aku sungguh bersyukur, dan takjub, bagaimana aku dapat sampai disini?
Sabtu, 12 Sept 09. Pagi hari sudah selesai beres2, jadi kupikir bakal santai-santai siangnya, lalu sore ke gereja, lalu menunggu flight jm 11 malam. Siang ke office dulu, ngeprint e-ticket (iya, tiket pesawat lupa di print!!!). Setelah itu Dissy sms ngajak ketemu. Sebenarnya aku udah khawatir tidak sempat ketemu, tapi karena dia toh jauh-jauh dari Jakarta dan kami perlu saling menitipkan uang, jadi kami akhirnya janjian ketemu di UCC jam 7. Kupikir setelah selesai gereja ke UCC lalu segera pulang, makan, dan berangkat. Ternyata, seperti dibilang Murphy’s Law: it will take longer than you think; and if anything can go wrong, it will — akhirnya aku dan Chris baru makan malam jm 8, buru-buru ke apartment utk ganti baju dan ambil koper. Lalu lift di apartment sempat macet pintunya, ditambah dengan taksi yang tak kunjung muncul (muncul sih, tapi penuh semua), dan diakhiri dengan sopir taksi yang salah membelok di Changi: bukannya ke terminal keberangkatan tapi ke kedatangan. Akhirnya kami baru sampai jm 21.30 dan berlari-lari untuk check in.
Minggu, 13 Sept 09. Di pesawat nonton The Proposal sambil makan kue. Lumayan sih film nya, tapi terasa biasa aja. Padahal banyak orang bilang filmnya bagus sekali. Well. Menunggu makanan dihidangkan, lalu ketiduran. Ternyata makanan dihidangkan sebagai sarapan. Jadi bangun pagi, sarapan, dan tiba-tiba tersadar: sudah hampir di Jepang ini! Sendirian pula! Sampai di Kansai airport jam 6.30 pagi, cari tourist information, minta peta, beli kartu telepon, telepon rumah. Papa mama agak kaget ditelepon — mereka tidak menyangka aku bakal nemu kartu telepon secepat itu. Pas telepon merasa agak aneh. Yah, ini pertama kali pergi jauh tanpa mereka. (Australia tidak dihitung sih, itu kan bareng-bareng rombongan). Merasa senang bisa pergi sendiri, tapi sayang juga mereka tidak bisa ikut melihat Jepang. Merasa sudah besar karena sudah boleh pergi sendiri, tapi juga merasa tidak ingin jadi dewasa cepat-cepat. Setelah telepon lalu menunggu di terminal kedatangan. Flight Dr Beer & Mingqiang tiba jm 9. Lalu kami bertiga naik kereta ke hotel. Kira2 1 jam perjalanan. Makan siang, tidur siang, lalu pergi ke welcome reception malamnya. Tidak terlalu banyak orang datang di reception. Snack beraneka ragam enak-enak. Kenalan dgn group phd students dari Norway. Sejak waktu tidur siang sudah mulai deg-degan. Conference beneran nih, banyak gajah dan mammoth (istilahku utk menyebut prof dan prof senior), dan aku harus presentasi!!!
Senin, 14 Sept 09. Hari pertama conference. Dibuka dg Freudenthal Lecture oleh Prof Ang. Senang juga, bayangkan, mendengar kuliah dari orang yang menulis buku pegangan yang kita pakai sejak jaman S1 sampai sekarang. Lecture nya tidak ada yang baru sih, hanya menyimpulkan saja perkembangan2 dalam structural reliability selama tahun-tahun belakangan ini. Simulation of stochastic process, simulation-based reliability analysis, applications on geotech, offshore, infrastructure problems, epistemic & aleatory uncertainty. Ada 1 keynote lecture lagi dari Jepang. Lalu masuk ke session-session kecil. Aku ke session yang diselenggarakan Dr Beer. Menarik juga, session ini kebanyakan orang-orang statistik / matematik murni, bukan orang teknik. Membahas cara-cara alternatif utk menganalisis uncertainty selain probability theory. Yang dibahas terutama ttg fuzzy theory. Setelah makan siang (enak dan macam2, ada mie kuah, nasi, aneka gorengan, aneka dumpling, salad, pasta, aneka sushi), ke session Dr Beer lagi. Ivan Au moderatornya. Mingqiang presentasi. Dr Beer mengenalkan kita ke Ivan Au. Dia bilang ‘Anastasia is working on subset simulation’. Sorenya ke session Application of Monte Carlo simulations — moderator Prof Shinozuka. Pengin tau aja sih, kalau-kalau ada teknik simulasi baru. Juga Shinozuka kan terkenal. A mammoth, he is. Ternyata suaranya pelan sekali. Presentasi di session itu tidak terlalu menarik. Pulang ke hotel, beli bento di supermarket, mandi, makan, latihan presentasi, baca Little House on the Prairie (dan merasa betapa hidup jaman dulu lebih sederhana — mengapa aku tidak main-main saja di padang rumput seperti Laura dan malah mencari masalah dg presentasi disini?), tidur jm 9 malam.
Selasa, 15 Sept 09. Bangun jm 7, makan pagi, berangkat bareng group Norway. Keynote lecture dari Wilson Tang tentang reliability of geotechnical problems. Membahas perlunya memperhitungkan epistemic uncertainty. Agak was was karena sejauh ini aku tidak memperhitungkan epistemic. Menenangkan diri sambil berpikir, one step at a time. Toh selama ini masih jarang yang memperhitungkan uncertainty dalam unsaturated soil, apalagi yg epistemic. Pagi itu ke session Robustness. Moderatornya agak aneh, kayak tidak menguasai bahan. Ada 1 presenter cewek, bukan dari akademisi tapi dari konsultan, presentasinya jelas dan menarik (meskipun tidak banyak hal baru), pakai sack dress dan scarf pula. Membuatku bertekad, nanti aku jg harus presentasi yang menarik. Dan, seperti Poirot bilang “paying attention of being a woman”. Yes, yes, I am a woman, so let me show my femininity. Untung bawa sepatu Cicik. Sayang tidak bawa sack dress. Di session itu kenalan dg Nara, anak Thailand yang kuliah di Wisconsin Madison. Setelah makan siang, ada keynote lecture lagi ttg non-stationary random process. Siangnya ke session Robustness lagi, Dr. Beer presentasi. Bagus juga. Sorenya ke session Structural Health Monitoring. Pengen tau apa sih intinya SHM. Juga ada yg presentasi ttg matric suction, berhubungan dengan kerjaanku. Pulang bareng Jia (anak Norway), beli takoyaki sama2. Beli bento, mandi, makan, latihan presentasi (sambil melatih gerak tubuh yg lebih feminin), baca Little House, tidur. Merasa jauh lebih pede setelah 2 kali latihan presentasi. Dan setelah mengingat, I’m a woman. (agak ga nyambung ya?).
A friend wrote in her Facebook page: “feeling the joy of motherhood”. Another friend posted photos of her cute baby. Another friend — who I heard is having her wedding soon — is busy posting “me and hunnie” photos.
Here I am, in my comfortable cubicle at 8 pm, trying to figure out what to do with the random field and checking my to do list (which contains reviewing paper, making presentation, submitting assignments and reading Poirot before the library due date; instead of prewedding, invitation cards and dress-fitting).
And instead of envying my friends with their seemingly happy marriage life, I have to pray hard not to looking condescendingly on them. As always, humility is not my forte
A woman’s respect for her husband is best assessed by how long she stands by him when he is troubled, and a man’s love of his wife is best measured by how much he shares the joy of her success.
And I do hope, my dear, that we both would pass the tests.
Marriage is a really interesting topic. The scope of discussion is very wide (you can discuss it from the religious, practical, economic, romantic, or cultural point of view), there are many strange special cases, and there is a flavour of uncertainty in it (my great grandfather once said to my mom that marriage is a gambling).
Since I’m old enough to understand the concept of marriage and choice, I have seen some strange cases. To be more specific, some people do make odd choice. I’m sure all of you have known — at least one — couples that you think are so unsuitable that you wonder how they ever decided to get married.
I know a smart, goodlooking, healthy man with a bright career (a director of a big company at early thirty, mind you!) and an untarnished family background. He chose to marry a very, very plain lady. Now, I don’t mean to judge or underestimate anyone, but that’s how the facts I know about her shape my opinion of her. May be I know too little about her, but she seems so very plain. Got a bachelor degree from a relatively unknown college, work as a secretary, a rather questionable family background, not very pretty nor sexy (I’m trying to look at it from a man’s point of view), never heard that she is very impressive at cooking, sewing, or anything. So? And I also know a girl, a bright, healthy girl from a relatively rich family. Falling for a man almost twice her age, with a so-so career and unclear background. When I was a teenager, I thought those cases as a pure true love. Now, I think those are simply madness unwise choice.
As I wrote the above paragraph, I remember the Edward VIII – Wallis Simpson spectacular marriage. For those of you who don’t really read history, Edward VIII was a king of England (he is Queen Elizabeth’s uncle) but he fell in love with Mrs Simpson (yes, Mrs, with a very much alive husband). The parlement and the Church of England objected to their getting married, and Edward chose to abdicate rather than accepting ‘the duty of a king without the woman he loves’. What a soap-opera story! Again, when I first read about them (was only a young teenager then), I thought it is so romantic in the fashion of Cinderella. But now, I think it was so irresponsible for one to abdicate for such reasons. What about responsibility and duty to one’s family, and (in Edward’s case) one’s country? At least Cinderella was a maiden! (though I think it is also unfit for a prince to marry a servant girl never trained to be a lady).
Well, only my random thoughts. After all, people can only see a marriage from outside. It is those inside the marriage who know whether they made a wise choice.
might have to give up the GeoFlorida paper. I’m so upset. Prof said it’s ok, but how can it be ok? We fail to generate a meaningful results, fail to meet the deadline, fail to achieve our objective.
Yet we find that the problem is more interesting than we thought.
Supposed to be working now, but feels not like to. There are many things to do: editing the Metropolis paper, thinking why the results are funny, preparing presentation, but I’m lazy
Take a break? watching youtube, browsing? nothing interesting. may be I’ll just find an Agatha Christie.
Dua hari yang lalu saya membaca buku “Selamat Bergereja:33 Renungan tentang Komunitas Iman” karangan Andar Ismail. Sebagaimana buku seri Selamat yang lain, tiap renungan umumnya pendek (3-4 halaman), berjudul menarik, mengungkap hal yang penting secara sederhana, dan membuat pikiran tergelitik.
Buku ini diawali dengan mengingatkan kita tentang makna gereja: orang-orang yang dipanggil keluar dari hidupnya yang lama yang tak mengenal Tuhan (Yunani: ekklesia –> diserap menjadi igreya, ecclesia, gereja) untuk menjadi komunitas milik Tuhan (Yunani: kuriake –> diserap menjadi kirke, kerk, church). Demikianlah gereja bukanlah gedung atau struktur organisasi, tetapi komunitas. Ya, komunitas! Dalam renungan-renungan selanjutnya, penulis melanjutkan uraiannya dengan mengingatkan komunitas seperti apa seharusnya gereja itu.
Gereja adalah komunitas yang peduli, sesuai dengan hakekatnya sebagai satu Tubuh, yaitu Tubuh Kristus. Bagaimana dapat menghayati kesatuan, bila antar gereja saling menganggap diri benar dan yang lain salah? Bagaimana dapat disebut satu Tubuh, bila sesama warga gereja tidak mau saling mengenal dan peduli? Penulis mengkritik kebiasaan para pendeta dan aktivis gereja yang “tidak mau mendengar, tapi mencekoki ayat Alkitab. Seorang ibu yang sedang putus asa dan membenci tentunya tidak butuh diingatkan bahwa ia tidak boleh membenci. Ia butuh didengarkan, butuh simpati, butuh ditolong untuk melepaskan perasaan bencinya”. Sebuah cerita lucu tapi tajam tentang lawatan dari gereja ke rumah seorang nenek dan sebuah daftar keluh kesah jemaat dengan nama inisial A – Z menegaskan pendapat penulis tentang hal ini. Gereja haruslah komunitas yang peduli dan bukannya teriakan kosong tak bermakna dari mimbar. Bagi saya, itulah Injil, itulah gereja: kabar baik bahwa Tuhan peduli, maka gereja pun menghadirkan kepedulian itu, misalnya harapan buat yang tertindas, pertolongan buat yang miskin, pengobatan untuk yang sakit; bukannya menakut-nakuti bahwa orang akan masuk neraka kalau tidak jadi Kristen.
Berikutnya, gereja merupakan komunitas belajar mengajar. Belajar apa? macam-macam! Tentunya belajar mengenal iman Kristen kita. Lalu belajar memahami makna gereja dan peranan kita dalam gereja. Memperluas wawasan tentang berbagai pandangan yang ada dalam gereja. Lalu juga belajar peduli, belajar menghargai dan menerima orang dan komunitas lain, terlepas dari apapun ras, agama, dan pandangan politik mereka. Sebab sang Kepala Gereja mencontohkan hal demikian. Kristus menangis bersama Maria dan Marta. Ia peduli. Kristus menerima orang Yahudi maupun Yunani. Ia tidak menyebut orang “kafir”.
Berikutnya, penulis menyinggung tentang peranan kita sebagai anggota gereja. Dapatkah orang menjadi Kristen tanpa mengikatkan dirinya pada gereja? Tidak dapat! Pengakuan iman memang hal pribadi, tetapi “kita semua adalah tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggotanya”. Bagaimana menjadi anggota tubuh kalau tidak mau menyatu dengan tubuh tersebut? Sebagai seorang pendeta senior, dengan realistis penulis berkata: Gereja mungkin mengecewakan … membosankan … melakukan kesalahan. Namun seenggan-enggannya perasaan kita dan sejauh-jauhnya kita pergi, kita pulang kembali ke gereja. Sebab gereja adalah rumah milik Kristus yang tersedia sebagai tempat tinggal kita. Di situ kita tinggal. Di situ kita serumah dengan Kristus.
Membaca buku ini saya merasa senang, sekaligus agak sedih. Senang, sebab seperti bernostalgia. Masa remaja saya banyak diwarnai oleh buku-buku seri Selamat. Pandangan dan pengertian saya tentang iman Kristen banyak didapat dari ajaran GKI – yang berakar dari ajaran Presbyterian – Calvinis – dan buku seri Selamat menyarikan banyak hal mengenai ajaran tersebut. Membaca buku ini seperti ini seperti membaca buku kesayangan di masa kecil. Agak sedih, sebab saya merasa buku ini (dan juga 1-2 buku seri Selamat yang terakhir saya baca) tidak sepadat dan setajam buku seri Selamat yang terdahulu. Mungkin karena Pdt Andar beranjak tua, dan kesehatannya juga saya dengar tidak prima. Rasanya seperti melihat orang tua yang kita kasihi beranjak tua dan lemah. Atau mungkin saya yang beranjak dewasa sehingga buku yang dulu padat kini terasa ringan?
Buku “Selamat Bergereja” diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dan dapat dibeli di toko buku Kristen. Setahu saya belum ada terjemahan ke bahasa Inggris. Kalau ada yang berniat menerbitkan, saya mau melamar jadi penerjemahnya
I am somehow captivated by those women which history presents us as great queens (either sovereign ruler or consort). Reading their biographies and catching a glimpse of their lifes through movies (for even in those highly dramatized movies there must be a bit of accuracy, that’s why I said ‘a glimpse’) has arisen in me a strange respect and pity to them. Respect, as their inherent dignity commands respect. Pity, as a crown is a heavy burden as Maria Theresa said. And strange, as being an Asian and commoner I know nothing about them nor their culture.
On her accession to the throne, Alexandrina Victoria of Kent was only 18. She became Queen Victoria of the United Kingdom of Great Britain and Ireland (and Empress of India later) and she reigned for 63 years, the longest monarch in UK until this date. She reigned from the early 19th century until the beginning of the 20th century (she died in January 1901). When she became queen, UK was already a constitutional monarchy where a monarch is no longer an absolute ruler but only a head of state with rights to advise and to warn. Practically a monarch was only a symbol. But this great lady, thanks to her charming consort Prince Albert, managed to stamp her presence in the world history far stronger than a mere symbol. Even as a young lady, she was able to obtain respect from her ministers. The Bedchamber Crisis, foolish as it may be, shows her strong will. Together with Albert, they supported the development in science, technology and art. The Great Exhibition in 1851 was one of the strongest manifestation of their support. Although in her later days as a widow she seemed to dislike progress (she reportedly hated the telephone, a great invention at that era) and shunned herself from her people, in her last years she again managed to win the support and loyalty of her subjects. In present day Singapore, her statue is still standing in the Botanic Garden. Below the statues an inscription can be read: “…to Her Majesty … show gratitude …from Her Majesty’s Chinese subjects”.
In Victorian era the Queen no longer wielded executive power, but there were older times when a monarch literally rules the country. In 16th century England, there was a queen who wielded such power and show that she deserves her title and crown. Born as a daughter of King Henry VIII (yes, the one with 7 wives) and Anne Boleyn, Elizabeth experienced much in her childhood and youth. After a brief childhood in the palace, she was deemed illegitimate and her mother beheaded. When her stepsister became queen, she came under suspicion of treason. Finally, at the age of 25 she became Elizabeth I, the Queen of England and Ireland.
Despite the turbulent youth, throughout her reign (1558 – 1603) Elizabeth I proved to be an able sovereign. While Victoria struggled against her domineering mother, annoyed by prime minister selection of her ladies-in-waiting; Elizabeth I faced far more dangerous troubles: Catholic – Protestants turmoil, threat from Spain, treason lurking in her inner circles. While Victoria found an able and faithful guidance from her beloved husband, Elizabeth I did not found a suitable match and sheltered herself in the image of the Virgin Queen. Despite all her troubles, her 44 years on the throne provided valuable stability for the kingdom. England was saved from foreign threat; the Church of England was established (an establishment which may not be the best or truest, but at least brought stability for the people). Some even regarded her era as the Golden Age of England.
In 18th century, the Holy Roman Empire was one of the most respectable powers in Europe (and hence in the world, as at that time this continent seems to be the centre of the world). This empire regarded itself no less than the successor to the mighty Roman Emperor. And a woman was once the ruler of this empire. Maria Theresa of Austria, styled as Her Imperial Majesty the Holy Roman Empress, was the Queen of Austria, Hungary, Bohemia, Croatia, and so many other realms!
On her accession to the throne, the army was weak and she was not prepared by her father to become a ruler. Nevertheless, she achieved much during her reign: she strengthened the army (increasing their size by 200%), created a supreme court to uphold justice, strengthened the economy of her territories, created a decree regarding hospital management which results in one of the most complete autopsy records in the world, introduced a mandatory education, and introduced a decency police to arrest prostitutes. A devout Catholic educated by the Jesuits, the Empress was intolerant to other faiths such as the Jews or Great Britain with their Church of England, whom she regarded as Protestant heretics. The Empress, however, seems less successful as a mother. From her many children, the most famous (notorious?) is Marie Antoinette who was executed under the guillotine as the hated Queen of France. Her oldest son and successor Emperor Joseph II was not in her calibre in terms of statesmanship. Another son, later Emperor Leopold II shown indifference when his sister Antoinette perished under the guillotine. Her other daughters whom she sent to various kingdom and duchys to become ruling duchesses and queens did her little honour.
And what about our present day? In these days when a hereditary monarch sounds so archaic and the idea of the Divine Rights of kings sounds ridiculous (even for those who still believe in God), I still think that one grand dame deserves our respect.
Elizabeth II, the present queen of United Kingdom and the Commonwealths has shown the world that she was no less dignified, no less able than another queen who bears her name. As her great-great-grandmother Victoria, she became a queen in a very young age yet managed to become a national symbol in a modernised country. She appears to be symbolized some kind of stability for England. And just as Maria Theresa, it seems that she is less successful as a mother than as a queen regnant. So typical for great sovereign, she does have a deep sense of religious and civic duty, and takes her coronation oath seriously. How can we not respect a young princess who said in a broadcast to the British Commonwealth, “…my whole life, whether it be long or short, shall be devoted to your service and the service of our great imperial family to which we all belong.”
I heard many times that every little girl dreams to be a princess. I tried to recall my childhood dreams, but I’m not sure whether I ever dreamed to be a princess. Nowadays, I often thought what a privilege it is to become a ruling, sovereign queen. Not a pretty, protected, little princess; but a tough, able, majestic queen. Sounds more appealing to me.
ngamuk.
there is no such things as true friends. but of course there is. After all last week homily was about the True Friend. so there is no such things as true friends on earth? but I hope there is. so, there is probably no such things as true friends on earth.
I would not come to any of your seminar or defense. Never. but never say never? but I am so angry. No one may regard me so lightly as they did!
ga temenan sama mereka juga ga mati! makan sendirian jg ga masalah! tapi masalah kan? after all, I do want to have friends. oh yeah, but they are not qualified to be my friends. but why so many people are not qualified? am I so difficult?