Bulan Mei yang lalu bukanlah bulan yang produktif bagiku. Bingung researchnya. Baca Alkitab nya juga jadi kurang teratur. Membaca buku yang lain juga tidak sempat lagi rasanya. Tapi Apologia akhirnya berhasil ditamatkan.

Tentang research. Buruk2 amat sih tidak. Sudah mencoba algoritma subset simulation utk berbagai kasus, juga yang ada random fieldnya. Masalahnya justru bahwa semuanya ok2 saja. Jadi apanya dong  yang mau di improve. Minggu lalu berdiskusi serius dg kedua prof. Utk pertama kalinya, (paling tidak menurutku) mereka memberikan feedback tentangku. Ada 2 hal yang kutangkap: satu, you have proven that you can learn and solve problem by yourself, no doubt about that; dua, but it’s not enough for phd. If you are a master student, you can start writing your thesis now. But for phd, you need to find a clear direction now – after learning all the tools and theories. Juga mereka berkata bahwa kelemahanku adalah aku belum bisa mengkritik suatu metode / teori. Menurut mereka, harusnya dg semua  yg sudah kupelajari, aku sudah ada background yg cukup untuk mengkritik dan memperbaiki suatu metode. Jadi sepanjang minggu ini mencoba melihat lagi tiap argumen dan prosedur subset simulation dan mencoba berpikir apa yang kurang. tapi entah kenapa tiap ada ide yang muncul selalu disertai dengan perasaan bahwa ide itu tidak penting😦 Prof juga bilang bahwa kemampuan tiap orang beda – beda. Ada yang bisa langsung research dengan mandiri, ada yang perlu di training. Katanya bagian terpenting dari studi phd adalah bisa menentukan arah (direction). Masalah tujuannya tercapai atau tidak, itu bukan yang utama. Katanya yang penting adalah proses menentukan arah dan berjalan sesuai arah itu.

Kadang aku jadi berpikir, teman2 yang lain itu bagaimana ya. Apakah mereka itu demikian tertarik dan senang dengan bidang researchnya? Apa mereka itu kl baca paper bisa langsung tahu, nah ini nih kurangnya, nah begini cara improve nya. Apa mereka itu tiap  hari ketemu ide cemerlang dan mencoba berbagai hal baru? Apa mereka itu tidak jenuh ya? Ada 1 orang yang sempat membuatku geleng2, dari tulisannya, sepertinya kegiatannya banyak sekali, sempat baca buku macam2. Apa memang dianya yang pintar sekali atau akunya yang bermasalah? Kadang aku merasa bahwa teman2 sesama phd student pada jaga gengsi kalau diajak ngobrol tentang research masing2. Kecuali 1 teman  yang terkasih🙂 Kalau ditanya, selalu pada jawab … ya, masih berjuang lah…ya agak susah.. Hmm, berhubung ini toh catatan  harianku jadi biar kumulai dengan berkata jujur disini: aku sedang bingung mau melanjutkan researchnya kemana. Tools nya sudah ada (syukurlah), macam2 malah. Tapi directionnya belum jelas. Aku sering jenuh dan sering tidak bisa menahan diri untuk browsing2 internet ga jelas di saat jam kerja. Aku sering jadi ragu apa yang kukerjakan ada gunanya. Sering berpikir bahwa mungkin mereka2 yang kerja di konsultan atau perusahaan lain itu lebih produktif, sebab sudah tahu dengan jelas apa yang dikerjakan. Dulu kupikir aku orang yang pintar, tapi sekarang jadi agak ragu. Aku bisa membaca buku, memahami teori, menyelesaikan problem set, tapi apa itu yang disebut pintar? Aku suka belajar, tapi aku tidak suka meraba2 dalam gelap.

Jadi merasa kurang yakin apa ini pekerjaan yang cocok untukku. rasanya kalau diceritain papa mama tentang hotel aku hampir selalu punya ide. kenapa kalau ditanya prof tidak begitu ya. Jadi kurang percaya diri. Sejak 2-3 tahun yang lalu aku berpikir aku ingin menjadi pengajar. Tapi sekarang jadi kurang yakin apa itu tepat. Lha terus jadi apa ya. pgn pulang ke semarang. pgn berdandan dan pakai gaun yang bagus. sudah lama sekali tidak.