Kemarin tepat 12 thn meninggalnya Opa. Entah kenapa, aku selalu mengingat tanggal2 meninggal Opa dan Oma Tam, sedangkan hari ulang tahun mereka aku justru tidak ingat. Opa meninggal pada 6 Juli 1996 di usia 75 tahun. Waktu itu aku kelas 6 SD dan sedang libur sehabis ujian. Opa terkena kanker pita suara di thn 1992 dan pada thn itu pita suaranya diambil, sehingga sejak thn 1992 dia tidak bisa bicara. Tapi hal itu tidak menjadi masalah besar baginya (paling tidak menurutku). Mula2 ia menulis di kertas kl ingin bicara sesuatu. Tapi sebentar kemudian dia jadi malas menulis…dan dia sadar bahwa kami2 bisa membaca gerak mulutnya. Maka tak perlu menulis lagi, maksudnya tetap tersampaikan😀

Opa yang ini adl papanya mama. Oei Ging Kioe, atau Hadi Gunarko Widjaja, demikianlah ia dikenal. Semua saudara dan teman mengingatnya terutama karena kegemarannya bergurau dan mengerjai para keponakannya, kesukaannya bertandang ke rumah orang dan mengobrol, dan gurauannya yang kadang vulgar :p (I suddenly remembered ‘culitang yangyangsu’, I think I’d better not write here what that stands for). Sejak aku belum lahir sampai sekarang, papa mama tinggal di rumah Opa. Jadi dari aku lahir sampai ia meninggal, kami selalu serumah. Aku ingat waktu kecil dulu aku diajari memanggilnya Opa Kioe (mungkin utk membedakan dg Opa yang satu lagi). Tapi sebentar kemudian aku terbiasa memanggilnya Opa tanpa embel2 nama. Opaku tinggi dan ganteng. Yang diwariskannya padaku adalah hidungnya yang besar (ciri khas keluarga Oei). Dulu saat aku kecil dia sering memintaku memijatnya..tapi aku tdk pintar memijat, jadi akhirnya ya hanya sekedar menekan2 tangannya saja :p Meski sudah pensiun, dulu tiap hari Opa suka pergi dari pagi dan pulang siang. Pulangnya selalu membawa koran. Hal ini membuatku sampai pada kesimpulan, Opa loper koran! Waktu hal ini kutanyakan pada mama, dia tertawa terbahak-bahak. Ternyata Opa sekedar jalan2 dan koran itu dibelinya krn dia gemar membaca. Koran Bola, dulu selalu dia beli. Selain membawa koran, dia sering membeli kuping babi, makanan kegemaranku. Dulu dia suka menyembunyikan majalah Bobo dan memintaku memijatnya baru majalahnya dia kembalikan.

Sekitar tahun 94 atau 95, dokter menemukan sel kanker lagi di dekat pita suara Opa. Maka dimulailah lagi rentetan pemeriksaan, radiasi, biopsi, entah apa lagi. Berbeda dengan pada th 92 dulu, kali ini Opa sepertinya putus asa. Dia jadi lesu dan tidak bersemangat. Malas pergi2. Makan pun jadi tidak bernafsu. Bbrp bulan terakhirnya, mandi pun ia malas. Terakhir ia sering batuk2 dan keluar darahnya. Entah kenapa bisa begitu. Pernah suatu malam darah dan batuknya tidak berhenti2, dan papa mama langsung membawanya ke rumah sakit. Paginya aku terbangun dan heran krn rumah kosong. Bbrp hari setelah itu Opa dibawa ke Jakarta utk menjalani embolisasi (baru pertama kali itu aku mendengarnya). Mama bilang itu adalah utk ‘menembak’ pembuluh darahnya sehingga tdk berdarah lagi kl batuk. Dan mama jg bilang ini bukan upaya pengobatan…secara medis sudah tidak bisa diobati lagi…ini hanya upaya utk mengurangi penderitaan pasien. Seingatku sekitar 3 bulan terakhirnya ia hanya tiduran di ranjang saja. Di rumah. Opa tidak suka rumah sakit. Dan dia tidak kesakitan atau apa, hanya seperti sudah enggan ngapa2in.

Kesalahan yang kulakukan padanya yang kuingat sampai sekarang ada 2. Yang pertama, tentang makan. Keluarga kami biasa makan bersama, terutama makan malam. Segala radiasi dan pengobatan2 itu agak menumpulkan syaraf perasa Opa, sehingga baginya makan terasa tak berasa. Selain itu entah knp makanannya pun harus dihaluskan. Ia jadi sering melepeh makanannya. Tata kecil, yang selalu mudah jijik dan yang karena sehari2 tinggal bersama Opa jadi tak ada sungkannya, langsung bereaksi. Ih Opa jorok ah. Dan waktu itu benar2 aku jadi susah makan krn melihat lepehan2nya berceceran di meja. Bbrp saat setelah itu, Opa jadi sering makan sendiri, tidak sama2 lagi. Sungguh maaf, Opa. Yang kedua, aku pernah sekali menolak dg kasar waktu disuruhnya mengambil botol kecap. Seingatku aku tdk pernah kasar pada Opa, tapi sekali itu, aku terburu2 mau pergi fotokopi dan aku jengkel karena lupa fotokopi, baru teringat sudah malam, dan Opa memanggil (dengan tepuk tangan, itu cara dia memanggil) dan menunjuk2 botol kecap di meja. Aku spontan mendesah keras, ‘Opa aku buru-buru!’ dan berlari pergi. Aduh. Mama memarahiku setelah itu.

Keluargaku keluarga Kristen, jadi kami tidak lagi ada sembahyangan seperti umumnya keluarga Chinese yang masih memegang tradisi. Tapi kadang kami masih ke laut dan menyebar bunga untuk mengenang Opa. Tidak pada tanggal tertentu, memang. Kadang ada beberapa orang Kristen yang menganggap segala kegiatan mengenang orang meninggal tidaklah perlu, atau bahkan, suatu dosa. Tapi bagiku, justru suatu hal yang aneh dan jahat kalau begitu seorang anggota keluarga meninggal, kita menghilangkannya begitu saja dari ingatan dan pembicaraan kita. Di masa hidupnya, banyak yang sudah dia berikan untuk kita. Mengingatnya, menurutku, tak peduli kita melakukannya dengan cara apa, adalah suatu hal yang manis. Selain itu, mengenang seorang terkasih yang sudah meninggal juga mengingatkan kita untuk membahagiakan mereka2 yang masih hidup, selagi masih ada kesempatan.

And to you, Opa, see you!