Tidakkah kamu mengerti bahwa adakalanya ia membutuhkan pujian yang tulus darimu?
Tidakkah kamu merasa bahwa ia selalu senang bersamamu, meskipun hanya duduk diam bersama?
Tidakkah kamu menyadari bahwa ia sedih saat kamu sepertinya tidak merasa ada yang hilang saat kamu tidak bertemu dengannya?
Tidak pernahkah kamu merasa kangen padanya? Mungkin kamu menjawab, bagaimana bisa kangen bila tiap hari bertemu? Oh, bukan perasaan ingin bertemu nan menggebu-gebu yang dimaksudkannya, melainkan adanya kedamaian yang manis saat meluangkan sedikit waktu bersama di akhir hari yang melelahkan. Bersama karena memang ingin bersama, bukan sekedar duduk di ruang yang sama. Keinginan untuk merasakan kedamaian dan kebersamaan itulah yang disebutnya kangen. Tidakkah kamu mengerti?
Tidakkah kamu mengerti bahwa setiap orang berhak untuk dikasihi dan dilimpahi perhatian sepenuhnya tanpa dikurangi oleh kenangan buruk masa lalumu? Bila kamu dulu bisa memberikan kado yang manis untuk seseorang yang (tampaknya) lebih banyak menyakiti dan menghilangkan percaya dirimu daripada mendukungmu, mengapa untuknya kamu menahan dirimu? Khawatir ia tidak menyukai pemberianmu, seperti gadis itu? Lalu mengapa kamu tidak khawatir bahwa ia mungkin bersedih karena kamu tidak memberi apa-apa?
Dengarkanlah, aku bicara padamu!