Sekedar ingin mencatat dan berbagi tentang suatu keluarga yang sungguh inspiratif.

Untuk Chris, aku serius saat dulu menulis keluarga yang kuinginkan seperti Little House on the Prairie. Let me tell you why.

Keluarga Ingalls yang dimaksud disini adalah pasangan Charles dan Caroline Ingalls serta keempat putri mereka: Mary, Laura, Carrie, dan Grace. Keluarga mereka khas keluarga Amerika di akhir abad ke-19: berpindah-pindah ke beberapa tempat untuk mendapat lahan pertanian yang subur, jemaat gereja Congregational, hidup pas-pas an tetapi selalu dapat bertukar hadiah Natal setiap tahun… mungkin tidak ada yang akan mengingat keluarga ini kalau bukan karena salah seorang putri mereka menerbitkan kenangan masa kecilnya. Laura Ingalls Wilder (1867-1957) menulis kisah-kisah masa kecil hingga awal masa dewasanya dalam seri buku Little House. Di Indonesia, seri ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Seluruhnya ada 8 buku, antara lain Little House in the Big Woods, Little House on the Prairie, On the Banks of Plum Creek, By the Shores of Silver Lake, The Long Winter, dan beberapa lagi. Kisah keluarga Ingalls menjadi makin populer saat diangkat menjadi serial TV “Little House on the Prairie” sekitar thn 1974-1984 dengan bintang utama Michael Landon (alm) dan Melissa Gilbert.  Serial ini dulu diputar di TVRI, lalu pernah pula diputar ulang di TPI sekitar thn 1996-1997.

Sebagaimana umumnya film, banyak cerita dalam serial TV tersebut yg tidak sesuai dengan kenyataan. Demikian pula, para peneliti telah menegaskan bahwa beberapa kejadian maupun tokoh dalam serial buku yang ditulis Laura telah dimodifikasi dari kenyataan sebenarnya demi alur cerita yang lebih menarik, atau karena ada beberapa kejadian nyata yang terlalu menyedihkan sehingga Laura enggan menulisnya. Tetapi, secara umum, buku dan serial TV tersebut menangkap dengan tepat karakteristik keluarga Ingalls.

Laura mencatat dengan detail betapa keras Pa (demikian ia memanggil Charles) bekerja, berusaha mendapatkan sebidang tanah, mengusahakan tanah pertanian, mencari pekerjaan tambahan di kala perlu; betapa ia tetap seorang ayah yang hangat meskipun sibuk bekerja: ia memanggil Laura dengan panggilan kesayangan ‘Setengah Pint’, memainkan biola setelah selesai makan malam, memuji masakan Ma. Laura juga mencatat betapa Ma mengurus rumah dengan sangat baik, memasak makanan yang enak dengan bahan yang terbatas (ia pernah membuat kue labu hijau saat badai salju mengamuk selama 7 bulan dan bahan makanan terbatas–baca The Long Winter), mengajar para putrinya membantu pekerjaan rumah tangga. Anak-anak semua bekerja membantu Ma setelah mereka selesai mengerjakan PR dari sekolah.

Keluarga Ingalls termasuk para pionir. Mereka mendatangi dan mengusahakan daerah2 yang baru, yang belum disentuh orang. Saya tidak tahu banyak sejarah Amerika, tetapi sepertinya pada tahun 1850 an itu masih banyak daerah-daerah Barat yang belum diusahakan dan pemerintah mendorong warganya untuk mengusahakan daerah tersebut. Saya terkesan saat membaca bahwa saat para pionir di suatu daerah baru merasa jumlah mereka sudah cukup banyak (sepertinya 100-200 orang sudah dianggap banyak waktu itu), mereka langsung mengusahakan untuk mendirikan gereja dan sekolah di daerah tersebut. Keluarga Ingalls sangat mementingkan pendidikan. Cukup aneh, pikir saya. Jaman sekarang, kalau untuk hidup saja pas-pas an, umumnya orang tua tidak mendorong anak-anaknya untuk bersekolah tinggi. Cari duit saja, itu yang penting. Hmmh. Ma (Caroline Ingalls) dulunya seorang guru sebelum ia menikah. Di saat mereka tinggal di daerah yang belum ada sekolah, atau saat musim dingin panjang tiba dan mereka tak bisa bersekolah, ia mengajar anak-anaknya di rumah. Ia menyuruh mereka mengerjakan soal hitungan, menghafalkan sajak, menghafalkan ayat-ayat Alkitab. Saya harap saya nantinya juga akan mendidik anak-anak saya sebaik itu! (Meskipun tentunya saya tidak berharap keluarga saya tinggal di daerah yang tak ada sekolah atau mengalami musim dingin 7 bulan). Putri tertua mereka, Mary, menjadi buta di usia remaja karena sakit demam. Tetapi entah bagaimana caranya, Mary tetap dapat mandiri dan membantu pekerjaan rumah tangga. Ia mengatur piring di meja makan; merajut; menjaga Grace; dan tetap belajar dengan bersemangat. Mary tipe orang yang menyukai belajar demi belajar itu sendiri. Tak lagi bisa melihat dan pergi ke sekolah, Laura lah yang membacakan soal-soal hitungan untuknya. Mary akan menghitung di luar kepala sementara Laura menghitung di kertas / batu tulisnya. Tahun 1881-1889, Mary bersekolah di perguruan tinggi khusus orang buta di Iowa. Bayangkan, tahun 1881 sudah ada perguruan tinggi khusus orang buta! Laura mencatat betapa meskipun buta, Mary selalu produktif, ceria, aktif mengajar di Sekolah Minggu hingga ia meninggal. Mary tidak menikah, sebagaimana umumnya wanita buta pada masa itu. Di serial TV, diceritakan Mary menikah dengan gurunya di sekolah orang buta. Romantis…tetapi menurut saya kenyataan justru lebih indah. Memang cerita bahwa seorang wanita buta pun dapat menikah dan punya anak adalah cerita yang indah; tetapi kenyataan bahwa seorang wanita buta, tanpa suami maupun anak, dapat tetap berpuas diri dan berguna untuk keluarga dan gerejanya, tidakkah itu lebih indah?

Keluarga Ingalls mengalami banyak kesukaran. Mereka tidak pernah menjadi kaya. Tetapi mereka juga tidak pernah kelaparan dan selalu gembira bersama. Gagal panen, terpaksa pindah karena daerah yang mereka tinggali belum diresmikan sebagai daerah tempat tinggal oleh pemerintah, Mary menjadi buta, badai salju selama 7 bulan, putra mereka satu-satunya meninggal saat masih bayi, keluarga mana di masa sekarang dapat berbangga bahwa mereka telah mengalahkan semua tantangan tersebut? Pa dan Ma mendidik anak-anaknya untuk terus berjuang dan tidak mengeluh. Di masa-masa sulit, mereka akan menyanyikan lagu-lagu yang bersemangat. Iman dan gereja menjadi bagian yang penting bagi keluarga Ingalls. Pa mengajar anak-anak tentang Tuhan di tengah obrolan sehari-hari, mereka menghafal ayat-ayat Alkitab, berdoa bersama, memakai pakaian terbagus mereka ke gereja. Di Alkitab keluarga mereka lah Charles mencatat peristiwa-peristiwa penting, seperti kelahiran anak-anaknya. Di antara barang-barang pribadi Laura, ditemukan catatannya tentang ayat-ayat Alkitab favorit yang biasa dibacanya saat ia sedih, bimbang, dan sebagainya. Dari apa yang saya baca, saya tidak menemukan doktrin yang rumit-rumit. Keluarga Ingalls mungkin tidak bisa kalau disuruh menjelaskan mengenai Allah Tritunggal, atau mengapa gereja Protestan melepaskan diri dari gereja Katolik. Tetapi iman mereka yang sederhana sungguh nampak dalam hidup mereka. Dan iman yang sederhana itu yang teguh bertahan melewati semua badai yang ada. Kalau disuruh memilih, saya akan memilih beroleh iman yang demikian daripada menjadi seorang ahli teologi yang langsung berpaling begitu kesulitan tiba.

Bila tadi saya mengatakan bahwa buku karangan Laura dan serial TV tersebut menangkap dengan tepat karakteristik keluarga Ingalls, pendapat saya ini berdasar pada surat Laura. Di masa tuanya, Laura Ingalls menulis surat untuk para penggemar bukunya yang kebanyakan anak-anak. Surat ini bisa dilihat di link ini. Laura mengatakan: sekarang jaman sudah jauh berubah dari masa kecil saya. Banyak penemuan baru membuat hidup menjadi lebih mudah sekarang. Tetapi hal-hal yang penting tetap sama: jadilah jujur dan dapat dipercaya; bersyukur dan memanfaatkan apa yang kita punya sebaik mungkin; menikmati hal-hal yang sederhana, ceria dan tetap tegar saat masalah datang.

Laura meninggal di usia lanjut; Pa, Ma, semua saudaranya, serta suaminya semua mendahuluinya. Putrinya telah dewasa dan berkeluarga. Ia tentu kesepian. Tetapi suratnya tidak menunjukkan seorang tua yang pahit dan mengeluh. Laura Ingalls Wilder sungguh menunjukkan betapa berharganya didikan orang tua, iman yang ditanamkan sejak kanak-kanak, dan kasih dalam keluarga. Jauh lebih berharga daripada kekayaan, pendidikan modern, ataupun kehidupan yang selalu mapan dan nyaman.