Dari keempat kitab Injil yang masuk dalam kanon Alkitab, Injil Yohanes ditulis paling akhir (sekitar 90-95 AD). Injil ini ditulis dengan style yang unik, berbeda dari Matius, Markus, dan Lukas, yang disebut Injil sinoptik (dari bahasa Yunani, συν, syn, bersama, and όψις, opsis, melihat, berarti “melihat bersama”). Beberapa keunikan yang saya amati / diajarkan pada saya:

1. Injil Yohanes mengambil style yang mirip dengan kitab Kejadian. Kitab Kejadian, yang merupakan kitab pertama dalam Alkitab, diawali dengan “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Injil Yohanes mengawali dengan “pada mulanya adalah Firman”. Ia melanjutkan dengan menjelaskan Siapa Firman tersebut: Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Lalu berlanjut ke ayat 14, dimana Yohanes menuliskan: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Kemudian, kisah penciptaan di kitab Kejadian dibingkai dalam 7 hari. Demikian pula, Yohanes mencatat 7 tanda yang dibuat Yesus.

2. Injil Yohanes tidak mencatat berita Natal. Ia langsung mulai dengan karya Yesus, dan dengan cepat menuju ke kisah sengsara dan Paskah.

3. Maria hanya muncul 2 kali dalam Injil Yohanes: di awal masa berkarya Yesus (tanda pertama: mengubah air menjadi air anggur dalam perkawinan di Kana) dan di akhir (Maria berdiri di kaki salib). Yohanes tak pernah menyebut nama Maria, ia menyebutnya ‘ibu Yesus’. Dalam 2 peristiwa tersebut, Yesus memanggil Maria “ibu”. Di katekisasi saya diajarkan bahwa dalam bahasa aslinya, makna “ibu” disini serupa dengan makna nama Hawa di kitab Kejadian (mother of all living).

4. Nama rasul Yohanes tidak pernah disebut; ia menyebut dirinya ‘murid yang dikasihi Yesus, sang murid’. Hal ini membuat adegan di kaki salib tidak hanya kejadian historis, tetapi juga terus relevan bagi gereja di segala abad: dekat salib Yesus, berdiri ibu Yesus dan murid yang dikasihi-Nya. (19:26) Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” (19:27) Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!”. Di katekisasi saya diajarkan bahwa hal ini tidak hanya berlaku bagi Yohanes; tetapi bagi kita, semua murid Yesus. Kita harus datang ke Salib, dan Ia memberikan ibu-Nya bagi gereja.

5. Hanya Injil Yohanes yang mencatat doa Yesus bagi murid-muridNya: (17:20)Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; (17:21) supaya mereka semua menjadi satu, …

6. Injil Yohanes dilengkapi dengan tujuan dan ruang lingkup, yang menurut saya sangat meyakinkan (dibanding dengan yang saya baca di paper2 ilmiah :p ): (20:30) Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,
(20:31) tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

7. Injil Yohanes tidak mencatat adegan Perjamuan Kudus dalam perjamuan terakhir (tidak ada kalimat ‘Inilah Tubuh-Ku…inilah Darah-Ku’ seperti di Injil yang lain, tetapi Yohanes pasal 6 mencatat dengan jelas saat Yesus menjelaskan bahwa tentang makna Perjamuan Kudus.