Mengapa banyak orang ribut mengenai nasionalisme? Bila orang yang cerdas mengejar beasiswa ke luar negeri, lalu bekerja dan tinggal luar negeri, dikatakan ia tidak nasionalis karena lebih memilih kenikmatan negara lain daripada membangun negara sendiri. Bila ada orang yang prioritasnya adalah lulus kuliah secepatnya, mencari pekerjaan / memulai usaha yang sukses, berkeluarga, meskipun semua aktivitas ekonomi ini dilakukan di dalam negeri, maka dikatakan orang ini begitu egosentris, tidak memikirkan masyarakat, bangsa dan negara. Ujung2nya sama juga, tidak nasionalis. Ada beberapa pendapat yang selalu muncul di pikiran saya setiap kali mendengar tuduhan ‘tidak nasionalis’ ini.

1. Mengapa nasionalisme? Maksud saya, ini seperti jalur tengah di antara 2 ekstrim. Ekstrim pertama adalah pemikiran bahwa seorang manusia haruslah ikut serta mengusahakan kesejahteraan seluruh bumi. Kita harus berusaha memajukan ilmu pengetahuan, mengentaskan kemiskinan, pokoknya menuju hidup yang lebih baik untuk semua umat manusia. Mereka  yang menuduh orang2 tertentu tidak nasionalis, bukankah juga dapat kita katakan tidak internasionalis? Mereka memikirkan kemajuan bangsa mereka? Mengapa tidak memikirkan kemajuan bangsa lain yang lbh sengsara? Mungkin ada orang yang berargumen bahwa kita harus mulai dari lingkungan terdekat kita. Bagaimana mau ikut serta mengusahakan kesejahteraan seluruh bumi kalau membangun negara sendiri  saja tidak bisa. Hal ini menurut saya mengarah ke esktrim kedua, yaitu pemikiran bahwa seorang manusia haruslah setia / membalas budi / mengabdi pada lingkungan yang telah membesarkannya. Kalau demikian, saya hendak bertanya, mengapa berhenti di lingkungan negara / bangsa? Mengapa tidak mengembangkan paham provinsialisme, insularisme, kota-isme? Mengapa mahasiswa asal Indonesia yang bersekolah di Singapura disebut tidak nasionalis sedangkan mahasiswa asal Medan yang bersekolah di ITB tidak disebut tidak provinsialis? Membangun negara? Mengapa tidak disempitkan lagi menjadi membangun daerah asal? Seorang kawan saya menyitir kalimat (katanya) Soekarno, “Engkau telah memakan hasil tanah, meminum susu dari ibu pertiwi, sekarang mengabdilah untuknya…” kira2 begitu. Mengapa dibatasi sampai ibu pertiwi? Bisa saja bukan, ibu pertiwi dalam kalimat tersebut diganti dengan kampung halaman?

2. Apakah dasar pemikirannya sehingga seorang manusia dikatakan bertanggung jawab, harus mengabdi pada bangsa dan negaranya? Bagi saya, seorang manusia pertama-tama haruslah mengabdi pada Sang Pencipta. Dan bagaimanakah bentuk pengabdian tersebut? Bila seseorang terpanggil untuk mengabdi sebagai pengajar, mengembangkan dan mengajarkan ilmu pengetahuan, haruskah ia membatasi pengembangan diri dan karyanya dalam batas sempit suatu negara? Bila seseorang terpanggil untuk menolong orang-orang miskin di suatu daerah terpencil, apakah ia harus menolak panggilannya karena, sekali lagi, batasan negara? Siapakah yang dapat mengatakan bahwa Bunda Theresa tidak nasionalis karena ia terpanggil untuk melayani orang-orang India, dan bukannya berkarya di negaranya?

3. Kalau tentang membalas budi, saya pikir lebih tepat kalau membalas budi ini diterapkan pada orang-orang yang memang berperan dalam kehidupan kita, daripada suatu istilah abstrak ‘ibu pertiwi’. Meminum susu? Ibu kitalah yang menyediakan susu! Ayah lah yang bekerja keras untuk membeli makanan! Keluarga, saya rasa, harus kita prioritaskan. Mereka nyata. Merekalah yang memeluk kita saat kita terjatuh, dan bersorak saat kita mencapai sesuatu. Bangsa? Negara? Bagi mereka kita hanya sebaris data statistik. Bila orang tua kita membutuhkan kita berada di sampingnya, nah, saya pikir itu alasan yang patut dipertimbangkan utk tidak tinggal di luar negeri. Tetapi, bila mereka bersemangat untuk tinggal di negara lain, yang menyediakan fasilitas kesehatan untuk mereka, apa kita tidak berjuang sebisanya untuk mengusahakan mereka tinggal di negara tersebut? Apa kita justru mengajar mereka untuk nasionalis?

Sebagai penutup, ada kutipan dari Erasmus: “That you are patriotic will be praised by many and easily forgiven by everyone; but in my opinion it is wiser to treat men and things as though we held this world the common fatherland of all.”

This world the common fatherland of all. A citizen of the world.

I, personally, would say: first and foremost, a creation of The Creator. A child of my family. And a citizen of the world.