Sudah tahun baru lagi. Sejak akhir tahun, sudah ingin mencatat / merenung tentang setahun yang lewat dan merencanakan tahun yang baru, tetapi ditunda demi qualifying exam nan maha penting. Mencoba mencatat hal2 yang terjadi di 2008:

1. Seputar studi dan penelitian

  • Pertama kalinya mempelajari sesuatu sendiri.

Tahun 2008 dimulai dengan was-was karena c.o.v(Pf) subset besar, lebih parah dari Monte Carlo. Bingung tak tahu harus bgmn: simulasi rasanya sudah benar, mengapa hasilnya jelek; mau menyangkal teori Markov Chain, mana bisa? Tetapi sekitar akhir Feb / awal Maret, ketemulah sebabnya: Markov chain simulation saya salah! itu sebabnya subset nya jadi aneh. Setelah Markov chainnya benar, semua pun jadi beres. Ini pertama kalinya saya mempelajari sesuatu sendiri, tanpa kuliah / diberitahu orang. Perasaan yang timbul saat mengerti sesuatu yang tadinya saya tak pernah tahu, that feeling of accomplishment, sungguh sesuatu yang tak dapat dibandingkan dengan nilai A ataupun gelar. Perasaan itu sungguh menyenangkan! Rasanya sebanding dg berbulan2 penuh kebingungan yang mendahuluinya.

  • Mengerti susahnya mencari arah / topik penelitian

Setelah subset berfungsi dengan baik, justru makin bingung. Bila suatu metode sudah berfungsi dg baik, apa yang mau diperbaiki lagi? Sekitar Maret – April, Prof mulai mendesak meminta saya memutuskan arah / topik yg spesifik. Sungguh pengalaman yang baru. Seumur hidup saya dilatih ‘bagaimana melakukan sesuatu’, bukan ‘apa yang kamu mau lakukan?’.  Sekarang saya mengerti bahwa ‘apa’ itu lebih berharga daripada ‘bagaimana’. Kendala saya saat itu, bagaimana mau mengkritisi metode2 yg sudah ada dan memperbaikinya, jika utk memahami metode2 tsb saja saya butuh waktu dan usaha yg tidak sedikit? Saya rasa pengetahuan dan pemahaman saya dalam bidang reliability belumlah cukup utk menentukan topik. Hal lain, saya jadi makin menghargai kehebatan papa mama. Darimana dulu mereka dapat ide usaha apa yang mau mereka buka?

  • Belajar mengerti apa artinya Tuhan menolong

Mungkin pertama kalinya dalam hidup saya sebagai student, saya benar2 berdoa mohon pertolongan utk studi saya. Sejak SD – SMA dan S1, saya memang berdoa setiap mau belajar, mau ujian, maupun sidang sarjana. Tetapi saya belum pernah berdoa dg perasaan tidak mampu dan putus asa. Selama ini saya berdoa dg keyakinan penuh bahwa semua ujian itu akan saya lewati dengan baik. Doa saya lebih mirip ucapan syukur daripada mohon pertolongan. Yah, kali ini berbeda. Secara objektif saya tahu saya belum siap untuk mencari topik. Dan itu mungkin berarti saya belum siap utk studi PhD. Mungkin saya perlu ambil master dulu. Tetapi di saat saya sudah menyiapkan diri utk yg terburuk, Prof justru turun tangan membantu. Ia menawarkan topik. Tentunya detailnya saya harus mencari sendiri, tetapi paling tidak ia menunjukkan arah.

  • Menulis journal paper yang pertama

Sekitar 3-4 bulan menulis journal paper yang pertama, tentang model probabilistik dari air tanah. Mengirimnya ke penerbit journal pada awal Feb. Menerima komentar2 dan saran2 perbaikan dari editor dan reviewer sekitar Agt / Sept. Mengirimkannya kembali bulan Okt. Dan masih menunggu jawaban sampai sekarang. Belajar banyak tentang menulis, mengomentari paper orang, menjawab komentar dan saran.

  • Menyelesaikan proposal thesis

Proposal thesis saya masukkan ke TU tgl 23 Des 08. Dan saya lulus qualifying exam di hari Epifani, 6 Jan 09.

2. Seputar diri pribadi

  • Menyadari (beberapa) kelemahan

Baru sadar kalau saya sukar bangun pagi (coba Mama baca, pasti ketawa, masa baru sadar sekarang?). Tapi memang baru sadar sekarang. Dulu saya pikir saya sukar bangun pagi karena tidurnya malam. Tapi sekarang, tidur jam 11, utk bangun jm 7 (itu sudah 8 jam) pun susah. Saya seperti butuh tidur 9 jam perhari. Saingan sama Jason. Sedang mencoba utk bangun lbh pagi dg cara tidur lbh pagi juga. Tapi itu artinya waktu membaca semakin berkurang.

Berikutnya, saya ternyata mudah jenuh juga. Setahun tanpa pulang ke rumah, rasanya seperti baterai tidak di charge. Mudah sekali hilang konsentrasi dan browsing2 tak jelas. Sekarang sudah lumayan. Daripada browsing, saya coba membaca / menggambar saja. Membaca paper, atau kl udah jenuh banget ya baca buku lain. Kan masih ada Tolkien.

Saya terlalu sering ragu-ragu. Hal kecil mungkin, tetapi berdampak besar. Saya menyia2kan sekitar 2 thn masa muda saya (dan 6 thn masa produktif orang lain) karena keragu-raguan saya. Coba saya tidak ragu-ragu, mungkin saat ini saya ada di US. Mungkin ia sudah berkeluarga. Untuk masa sekarang, keragu-raguan ini menjadi bumerang saat saya presentasi, mengajar, dan berdiskusi. Ini hal yang jelek utk seorang peneliti / akademisi. Berdoa dan berusaha utk lebih yakin.

3. Seputar iman

  • Gereja Katolik

Saya berkenalan dengan Gereja Katolik. Mungkin inilah hal paling ‘heboh’ tahun ini. Bersyukur atas kesempatan ini. Hal2 yang paling saya cintai dan banggakan dari GKI (liturgi, tradisi turun-temurun, kekhidmatan ibadah, kestabilan) semuanya ada di Gereja Katolik dengan berlipat-lipat intensitasnya.  Meskipun ada pula hal2 yang terasa demikian asing.

  • Belajar untuk lebih rendah hati.

Apalah gunanya menguasai theologi yang demikian tinggi, kalau menghadapi kesulitan hidup pun iman langsung runtuh? Studi PhD sungguh suatu hal yang membentuk iman, paling tidak buat saya. Disadarkan betapa saya kecil dan tidak tahu apa-apa. Saat saya mempelajari pengaruh hujan pada stabilitas lereng, saat saya mempelajari ketidakpastian dari tanah, hujan, dan menerapkan teori probabilitas yang rumit2 untuk memodelkan semua itu, kadang saya berpikir, tidakkah Ia yang menciptakan hujan dan tanah, tersenyum-senyum seperti kalau kita melihat anak balita bermain rumah-rumahan? Tapi tidak apa-apa. Saya percaya Ia memberkati usaha kita mengerti dan menguasai bumi.

Belajar rendah hati baik utk saya, mengingat betapa sebelum ini saya selalu amat sangat percaya diri.

  • Belajar percaya bahwa saya sudah di jalan yang benar

Belajar percaya bahwa kalau saya diberi kesempatan studi dan beasiswa hingga sekarang, maka Ia juga akan menolong saya menyelesaikan apa yg Ia percayakan dg baik.

4. Seputar keluarga

Oma sempat sakit sekitar bln Nov. Waktu  pulang kemarin, Papa juga terlihat bertambah tua. Mama tetap energizer seperti biasa, tapi bagaimanapun saya jadi teringat bahwa semua orang memang bertambah tua. Jason bertambah besar dan pintar. Sudah bisa ngomong macam2. Waktu memang berjalan. Atau lebih tepatnya, berputar? Tak ada yang baru di bawah matahari.

5. Seputar hubungan dengan Chris

Belajar lebih saling mengenal. Hubungan jarak dekat beda dengan jarak jauh. Sekarang setelah setiap hari sama-sama selama 1.5 tahun, saya jadi paham kenapa orang bilang hub jarak jauh itu riskan. Saya saja jadi heran, bgmn dulu bisa bertahan 5 thn berjauhan? Yah, tapi memang hasil akhirnya kurang baik. Hubungan jarak jauh, menurut saya, maksimal 1-2 thn. Lebih dari itu, cenderung membuang energi dan waktu. Meskipun ada jg ya yang berhasil pacaran jarak jauh 6 thn dan menikah. Saat ini saya baru mencicipi rasanya hubungan yang normal dan sehat. Tidak berarti berbunga-bunga terus, tetapi sehat. Ya, tidak ada kata lain yg lbh tepat. Belajar mengenal keluarganya, ada kesempatan masing2 keluarga bertemu (hal yang tak pernah saya usahakan dulu selama 6 thn!!), merencanakan masa depan (dengan realistis).

Ingin menutup catatan ini dengan hymn yang (hampir) selalu dinyanyikan di ibadah tahun baru GKI: Tlah datang Tahun Baru!

(tidak nemu teks bahasa Indonesianya. Tidak ada di KJ ternyata. Mungkin di NKB)

Another year is dawning, dear Father, let it be
In working or in waiting, another year with Thee.
Another year of progress, another year of praise,
Another year of proving Thy presence all the days.

Another year of mercies, of faithfulness and grace,
Another year of gladness in the shining of Thy face;
Another year of leaning upon Thy loving breast;
Another year of trusting, of quiet, happy rest.

Another year of service, of witness for Thy love,
Another year of training for holier work above.
Another year is dawning, dear Father, let it be
On earth, or else in Heaven, another year for Thee.