Pernahkah kamu merasa tidak suka pada seseorang / sesuatu sejak pertama kali melihatnya? Saya kadang mengalaminya. Ada beberapa orang yang, entah kenapa, sejak pertemuan pertama kesan saya pada mereka langsung kurang baik. Makin bertemu, makin tidak suka. Lebih aneh lagi, seringnya orang2 yang saya tidak sukai sejak pandangan pertama ini (tampaknya) disukai oleh banyak orang😦 Apa saya ini memang agak aneh? Sedang mencoba menganalisis mengapa saya bisa tidak suka. Apa saya iri?

Dulu di PMK ITB ada 1 orang cewe yang sejak pertama melihatnya saya langsung kurang suka. Pertama saya melihatnya pas persekutuan PMK. Ia memberi kesaksian tentang ujiannya yang berhasil — saya merasa kesaksiannya kok lebih mirip kisah sukses (saya pribadi beranggapan bahwa kesaksian seharusnya bukanlah melulu kisah sukses) dan tidak peka dengan mereka2 yang mungkin tidak semulus itu kisah hidupnya di ITB. Di kemudian hari, saya mendengar lebih banyak ttg dia: mahasiswi pintar, pandai main musik, aktif di Sion (sekali lagi, lembaga yang saya pribadi kurang cocok), pokoknya terdengar sempurna dan orang2 banyak yang suka. Tipe yang supel, banyak ide kreatif (kebalikan dari saya yang kaku?)Saya pernah beberapa kali kontak dg dia di panitia Natal, dan sebenarnya tak pernah ada masalah. Kesimpulan saya, yah memang dia tipe yang berlawanan sekali dari saya. Irikah? Rasanya tidak. Hanya berbeda saja.

Sewaktu datang ke Singapore pertama2, saya berkenalan dg Ms. Perfect. Kalau yang ini, sebenarnya bukan tidak suka pada pandangan pertama. Waktu pertama2 bertemu, kesan pertama saya, wah orang ini cantik sekali. Feminin. Lembut. Mirip2 Ciecie. Tapi makin sering ketemu, rasa suka saya mulai berkurang, dan lama2 jadi tidak suka. Tapi ya itu tadi, semua orang di komunitas kami suka-kagum-hormat padanya. Mengapa saya tidak suka: sering terlambat datang, hampir selalu menceritakan ttg dirinya (pelayanannya, liburannya, pekerjaannya, kesibukannya) setiap ada kesempatan bicara di forum–padahal waktu sudah mepet krn dia terlambat dan pekerjaan masih menanti. Irikah? Mungkin ada sedikit. Ia feminin dan selalu berdandan, saya jarang. Ia berkesempatan sekolah di negara yang dianggap paling maju (dan rasanya itu bukan beasiswa!!!!), saya belum – meskipun itu pilihan saya sendiri. Ia ramah dan penuh perhatian, saya kaku dan sering lebih berorientasi pada hasil daripada pada individu. Ia anak orang kaya, saya selalu memandang rendah orang2 yang hidup mapan ‘cuma’ karena orang tuanya.

Lalu ada pula seorang bapak, ia satu bidang ilmu dengan saya. Jauh lebih senior, ia sudah berpengalaman sebagai konsultan struktur dan mengajar di sebuah univ swasta di Indonesia. Ia gemar menulis lewat blog dan blognya ramai sekali dikunjungi orang. Kebanyakan komentar di blog nya bernada positif, memuji2 tulisan dan pandangan2nya. Tapi saya kok tidak suka dengan tulisan2nya. Nadanya memuji diri sendiri, kalau ada komentar yg mengkritik, bapak ini membalas dengan defensif. Juga kadang ia suka menulis hal2 menyangkut agama lain (bukan agama yang ia peluk) yang menurut saya memancing perdebatan dan dengan penulisan yang kurang arif. Iri? Ngga deh. Meski saya mengakui salah satu cita2 saya adalah menjadi pengajar dan konsultan, seperti yang bapak ini lakoni.

Sedang belajar untuk lebih terbuka. Tapi memang orang punya selera sendiri-sendiri kan? Saya pikir, merasa tidak suka itu tidak apa-apa, asalkan jangan merusak hubungan dengan orang yang bersangkutan atau menjelek2kannya.