Sejak kemarin, berita tentang David Widjaja, mahasiswa NTU yang (dituduh) menusuk profesornya dan bunuh diri ramai dibicarakan, terutama oleh para mahasiswa.

Dari hasil searching Google saya tahu bahwa mahasiswa tersebut punya sederet prestasi. Prestasi yang selama ini selalu saya ‘sesali’ kenapa saya tidak capai: dari SMA favorit, ikut olimpiade fisika, S1 di NTU. Sekitar 2 thn terakhir saya suka berandai-andai: kalau saya dulu masuk Loyola, mungkin saya akan dididik / dilatih sehingga bisa ikut olimpiade. Paling tidak seleksinya lah. Lalu mungkin pikiran saya akan terbuka untuk masuk NTU / NUS. Atau ke US. Lalu saya akan ambil PhD di Eropa / US. Iya, saya tahu saya ambisius. Sangat.

Kembali tentang mahasiswa yang (diduga) bunuh diri tadi. Meski belum ada pernyataan resmi tentang apa yang sebenarnya terjadi, pendapat umum mengatakan ia tertekan dengan beban studi di NTU, nilai-nilainya agak merosot belakangan (meskipun saya curiga, menilik riwayat dia, mungkin yang dibilang merosot itu dari A+ menjadi A-), dan beasiswanya ditahan. Orang2 mungkin akan berkata bahwa hal2 tersebut adalah alasan yang konyol untuk mati, tapi saya rasa saya sedikit memahami mengapa hal2 tersebut (bila memang hal2 tersebut sebabnya) bisa membuat seorang mahasiswa cemerlang mengakhiri hidupnya. Prestasi saya tentunya tidak sekaliber David. (karena itu? ) saya juga tidak pernah berpikir bunuh diri gara-gara studi. Tapi saya tahu bagaimana sedihnya mengalami kegagalan, setelah selama ini selalu berhasil. Saya tahu bagaimana frustrasinya merasa tidak berprestasi, setelah selama ini selalu cemerlang. Saya tahu bahwa ada kalanya beasiswa dihentikan, studi berjalan tidak lancar, tampak seperti akhir dunia, khususnya bagi orang2 yang (biasanya dianggap) pintar. Saya tahu bahwa disaat studi membuatmu begitu sibuk sampai tak ada waktu untuk hal lain, akhirnya kegagalan studi membuat dunia seolah runtuh. Saya tahu apa artinya hidupmu seolah berpusat pada prestasimu hingga kamu terus ingin berprestasi, lebih dan lebih lagi. Saya tahu bagaimana rasanya ingin terus dianggap pintar, karena kamu merasa itulah satu-satunya kelebihanmu.

Melalui  berita ini, saya merasa ditegur. Betapa saya kurang bersyukur. Barangsiapa diberi banyak, darinya juga dituntut banyak. Dan mungkin saya tidak siap dituntut sebanyak itu. Bila saya yang sekarang saja, dengan prestasi yang tidak secemerlang harapan saya, sudah kesulitan menerima kegagalan; apa jadinya saya kalau prestasi saya secemerlang yang saya harapkan? Mungkin saya akan jauh lebih dingin, tidak toleran, dan rapuh pada kegagalan daripada sekarang.

Really, it takes a genious not to graduate, as Erich Segal said (The Class). So I bow my head and give thanks to my Creator for not creating me as genious as I used to wish.

Catatan: saya sama sekali tidak bermaksud untuk ikut berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di NTU. Tulisan ini sekedar renungan pribadi saja.