Dua hari yang lalu saya membaca buku “Selamat Bergereja:33 Renungan tentang Komunitas Iman” karangan Andar Ismail. Sebagaimana buku seri Selamat  yang lain, tiap renungan umumnya pendek (3-4 halaman), berjudul menarik, mengungkap hal yang penting secara sederhana, dan membuat pikiran tergelitik.

Buku ini diawali dengan mengingatkan kita tentang makna gereja: orang-orang yang dipanggil keluar dari hidupnya yang lama yang tak mengenal Tuhan (Yunani: ekklesia –> diserap menjadi igreya, ecclesia, gereja) untuk menjadi komunitas milik Tuhan (Yunani: kuriake –> diserap menjadi kirke, kerk, church). Demikianlah gereja bukanlah gedung atau struktur organisasi, tetapi komunitas. Ya, komunitas! Dalam renungan-renungan selanjutnya, penulis melanjutkan uraiannya dengan mengingatkan komunitas seperti apa seharusnya gereja itu.

Gereja adalah komunitas yang peduli, sesuai dengan hakekatnya sebagai satu Tubuh, yaitu Tubuh Kristus. Bagaimana dapat menghayati kesatuan, bila antar gereja saling menganggap diri benar dan yang lain salah? Bagaimana dapat disebut satu Tubuh, bila sesama warga gereja tidak mau saling mengenal dan peduli? Penulis mengkritik kebiasaan para pendeta dan aktivis gereja yang “tidak mau mendengar, tapi mencekoki ayat Alkitab. Seorang ibu yang sedang putus asa dan membenci tentunya tidak butuh diingatkan bahwa ia tidak boleh membenci. Ia butuh didengarkan, butuh simpati, butuh ditolong untuk melepaskan perasaan bencinya”. Sebuah cerita lucu tapi tajam tentang lawatan dari gereja ke rumah seorang nenek dan sebuah daftar keluh kesah jemaat dengan nama inisial A – Z menegaskan pendapat penulis tentang hal ini. Gereja haruslah komunitas yang peduli dan bukannya teriakan kosong tak bermakna dari mimbar. Bagi saya, itulah Injil, itulah gereja: kabar baik bahwa Tuhan peduli, maka gereja pun menghadirkan kepedulian itu, misalnya harapan buat yang tertindas, pertolongan buat yang miskin, pengobatan untuk  yang sakit; bukannya menakut-nakuti bahwa orang akan masuk neraka kalau tidak jadi Kristen.

Berikutnya, gereja merupakan komunitas belajar mengajar. Belajar apa? macam-macam! Tentunya belajar mengenal iman Kristen kita. Lalu belajar memahami makna gereja dan peranan kita dalam gereja. Memperluas wawasan tentang berbagai pandangan yang ada dalam gereja. Lalu juga belajar peduli, belajar menghargai dan menerima orang dan komunitas lain, terlepas dari apapun ras, agama, dan pandangan politik mereka. Sebab sang Kepala Gereja mencontohkan hal demikian. Kristus menangis bersama Maria dan Marta. Ia peduli. Kristus menerima orang Yahudi maupun Yunani. Ia tidak menyebut orang “kafir”.

Berikutnya, penulis menyinggung tentang peranan kita sebagai anggota gereja. Dapatkah orang menjadi Kristen tanpa mengikatkan dirinya pada gereja? Tidak dapat! Pengakuan iman memang hal pribadi, tetapi “kita semua adalah tubuh Kristus dan kita masing-masing adalah anggotanya”. Bagaimana menjadi anggota tubuh kalau tidak mau menyatu dengan tubuh tersebut? Sebagai seorang pendeta senior, dengan realistis penulis berkata: Gereja mungkin mengecewakan … membosankan … melakukan kesalahan. Namun seenggan-enggannya perasaan kita dan sejauh-jauhnya kita pergi, kita pulang kembali ke gereja. Sebab gereja adalah rumah milik Kristus yang tersedia sebagai tempat tinggal kita. Di situ kita tinggal. Di situ kita serumah dengan Kristus.

Membaca buku ini saya merasa senang, sekaligus agak sedih. Senang, sebab seperti bernostalgia. Masa remaja saya banyak diwarnai oleh buku-buku seri Selamat.  Pandangan dan pengertian saya tentang iman Kristen banyak didapat dari ajaran GKI – yang berakar dari ajaran Presbyterian – Calvinis – dan buku seri Selamat menyarikan banyak hal mengenai ajaran tersebut. Membaca buku ini seperti ini seperti membaca buku kesayangan di masa kecil. Agak sedih, sebab saya merasa buku ini (dan juga 1-2 buku seri Selamat yang terakhir saya baca) tidak sepadat dan setajam buku seri Selamat yang terdahulu. Mungkin karena Pdt Andar beranjak tua, dan kesehatannya juga saya dengar tidak prima. Rasanya seperti melihat orang tua yang kita kasihi beranjak tua dan lemah.  Atau mungkin saya yang beranjak dewasa sehingga buku yang dulu padat kini terasa ringan?

Buku “Selamat Bergereja” diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dan dapat dibeli di toko buku Kristen. Setahu saya belum ada terjemahan ke bahasa Inggris. Kalau ada yang berniat menerbitkan, saya mau melamar jadi penerjemahnya😀