Kita yang tinggal di Indonesia tentu sudah akrab dengan kalimat berikut “dengan tidak mengurangi rasa hormat, harap tidak memberikan tanda kasih berupa bingkisan maupun karangan bunga”.  Kalimat tersebut hampir selalu kita jumpai di tiap undangan pernikahan. Mungkin sekarang berita duka di koran pun mulai mencantumkan kalimat tersebut. Meskipun saya pernah merasa kalimat itu terdengar vulgar seolah minta duit, saya tak pernah meragukan bahwa kalimat itu memanglah penting dicantumkan. Iya dong. Siapa yang mau setelah pesta nikah selesai, membuka kado dan mendapati 3 buah rice cooker yang serupa, padahal tagihan juru foto masih menumpuk? (kisah sejati mama saya). Lagipula pemberian uang juga lebih memudahkan buat si pemberi. Tidak perlu repot-repot cari kado, tinggal masukin uang ke amplop, beres. Praktis.

Tapi ternyata, tidak selalu sepraktis itu juga. Memang sih tak perlu cari kado, tapi kemudian timbul pertanyaan, nyumbang berapa? Biasanya pertanyaan ini dijawab berdasarkan beberapa pertimbangan, misal sedekat apa kita dengan mempelai, dimana resepsinya – kalau tempatnya mahal kita sumbang gedean deh, mungkin juga mempertimbangkan berapa dulu mereka nyumbang kita pas kita nikah. Nah, kalau dilihat lagi, sebenarnya pertimbangan2 tersebut masih sesuai dengan esensi awal, yaitu memberi tanda kasih. Menurut saya sih, namanya memberi hadiah (baik itu berupa bingkisan, karangan bunga, maupun uang) seharusnya ide awalnya adalah menunjukkan perhatian, well wishes, pendeknya: tanda kasih. Persis seperti yang ditulis di kalimat klise di tiap undangan itu.

Saya baru tahu sekarang, bahwa ada syaratnya supaya ide memberi hadiah sebagai tanda kasih itu tetap terjaga: sikap sang pengundang. Kalau sang pengundang adalah orang yang kita tahu suka petentang-petenteng, lalu dia ngasih undangan ke kita juga dengan sambil lalu (misal karena sekedar sungkan karena bertetangga) apa iya kita berminat memberi tanda kasih? Lha, kasih yang mana ya. Wong saya suka sebel kok sama dia. Lebih buruk lagi, kalau pestanya di hotel berbintang nan mahal (and the ones who invite you keep repeating that fact) sehingga kita merasa sungkan untuk tidak memberi ‘sumbangan’ dalam jumlah besar. Iya, sekarang sudah bergeser dari tanda kasih menjadi sumbangan. Kalau saya sih,mending duitnya buat saya sendiri dong, daripada dikasih ke orang yang saya ga suka, dan jadi terpaksa datang di acara orang itu. Dan buat para pengundang nan snobbish itu, kalau mau ngundang, ya ngundang aja, ga usah pake warta berita bahwa restoran yang kalian pake itu mahal, bahwa saya harus merasa beruntung sudah diundang. Halo? Apa sih artinya mengundang? bukannya artinya kalian ingin saya hadir dalam acara kalian, karena saya berarti buat kalian — dan sebaliknya? kalau memang mengundang saya malah jadi beban, ya sederhana kan solusinya: tidak usah ngundang! gitu aja repot amat sih. Sungkan? lha, emangnya kalian pikir kelakuan snob kalian itu tidak menimbulkan kesungkanan yang lebih parah?

— teringat sebuah undangan yang ditulisi kira2 begini: “kami ini menabung tiap sen lho! hadiah berupa uang sangatlah dihargai”. Talking about being vulgar…  . Sebenarnya kalimat tersebut mungkin ga akan terlalu masalah kalau saja sang pengundang tidak mengingatkan saya sebelumnya betapa beruntungnya saya telah dia undang karena restoran tersebut dihitung biayanya per orang (lha iyalah, memang ada ya restoran yang diitungnya ga per orang?) dan dia hanya mengundang sedikit orang.  Kalau memang ga mau ngundang juga gpp kok! Siapa bilang nikah itu harus ngundang-ngundang? Sayangnya, karena suatu alasan, kali ini saya harus datang ke acara tersebut. Yang berarti, saya harus merogoh kocek untuk menyumbang orang yang saya ragukan ketulusannya mengundang, dan harus datang untuk tersenyum manis dan menyelamatinya.

Mungkin saya perlu mengusulkan supaya dia menambahkan di undangannya: “minimal sumbangan: … per orang, karena harga di restoran ini … per orang.”  Dan dalam hati saya pun berharap, kalau saat saya mau menikah nanti kami tak punya anggaran untuk menjamu makan para kerabat dan teman, semoga saya tetap ingat untuk memilih solusi yang lebih elegan dan sederhana: tidak mengadakan jamuan dan mengakui keterbatasan yang ada, daripada mengadakan jamuan yang dipaksakan dan mengirim undangan yang mirip formulir sumbangan.