After getting my code run this evening, I gave myself a treat: spending two hours trying to translate “If” into Indonesian language. “If” is a famous poetry by Rudyard Kipling (1865 – 1936), an English poet and novelist.  This poetry has been translated into many languages.  The translation into Burmese was translated by none other than Aung San Suu Kyi.  According to Wikipedia, there has not been yet a published translation of this poetry into Indonesian.  In other websites we can find one or two free translations.  These basically translate the meaning of this poetry, without paying attention to the rhyme.  I also remember that years ago I heard another translation of this poetry read in a youth fellowship in my church.  But that translation involved a greater offense:  it was not stated in its printed copy that it was a translation, and the name “Kipling” was not even mentioned!

So those of you who knows Indonesian language, and need a break from your work or thesis, why don’t you try your hands at this translation?  I attach my translation in the end of this note – let me know if you have a better one.  It is a pity that so noble poetry is not widely known in our language.

The original English poetry has 4 stanzas.  Each stanza has eight lines with “a-b-a-b c-d-c-d” rhyme scheme.  I tried to keep this rhyme scheme in my translation, but I fail to make the last line rhyme.  My knowledge on metric variation is almost zero, but at least I count that there are 11 syllables in the first line, 10 syllables in the second line, and this 11-10 pattern continues throughout the whole poetry.  I tried to keep this also, without much success.  For one thing, Indonesian words tend to have more syllables.  So I tried to stick to 17-16-17-16 and 21-16-21-16, but again the last line cannot fit.  The second line of the second stanza also has 17 instead of 16 syllables.  About the more detailed meter, I do not even know whether this is iambic, dactylic, or whatever.  So if you know, tell me.

Anyway, here is the product of this two-hours-musing (the original English poetry is appended after the translation):

Jika kamu dapat tetap tenang saat semua di sekelilingmu

Kehilangan akal dan karenanya menyalahkanmu;

Jika kamu tetap percaya diri saat semua meragukanmu,

Tetapi juga mempertimbangkan keraguan itu:

Jika kamu sabar dan tidak lelah oleh penantian,

Atau saat dibohongi, tidak turut dalam dusta,

Atau saat dibenci, tidak larut dalam kebencian,

Tanpa tampak paling benar, atau paling bijaksana;

Jika kamu dapat bermimpi – dan tak dikuasainya,

Jika kamu dapat berpikir – dan tak berhenti di situ,

Jika kamu dapat berjumpa Kemenangan dan Bencana

Dan memperlakukan sama kedua hal semu itu:

Jika kamu dapat tahan mendengarkan kebenaran yang kau ucapkan

Dibengkokkan penipu untuk menjerat orang dungu,

Atau melihat hal yang kau perjuangkan setengah mati, dihancurkan,

Membungkuk, membangun lagi dengan perkakas yang layu;

Jika kamu dapat menyusun semua kemenanganmu

Dan mempertaruhkannya pada suatu kesempatan,

Dan kalah, dan harus memulai dari awal yang baru

Dan tentang kekalahanmu tiada kata kau ucapkan:

Jika kamu dapat membuat hati, keberanian, dan tenagamu

Tetap berjuang meski semuanya terkuras sudah,

Sehingga kau tetap bertahan saat tiada yang lain dalam dirimu

Kecuali Sang Kehendak yang bersabda: ”Bertahanlah!”

Jika kau berbaur dengan orang banyak dan tak hilang kebajikanmu,

Atau bersama para Raja – dan tak lupa daratan,

Jika lawan maupun kawan terkasih tidak dapat menyakitimu,

Jika tiap orang kau hargai, tanpa kau dewakan:

Jika kamu dapat mengisi tiap menit yang tak terulang

Dengan enam puluh detik yang berharga ’tuk dikejar,

Maka jadi milikmulah Bumi dan segala isinya,

Dan – lebih dari itu – kau menjadi Manusia, anakku!

 The original English one is posted in the page ‘Worth Remembering’.