Archives for category: grad school

Bila diminta membuat abstrak dari kesanku selama kunjungan ke Osaka minggu lalu, inilah yang terlintas di pikiran: aku merasa berada di jalan yang benar. Masih jauh dari tujuan, tetapi di jalur yang tepat. Menoleh ke belakang, aku sungguh bersyukur, dan takjub, bagaimana aku dapat sampai disini?

Sabtu, 12 Sept 09.  Pagi  hari sudah selesai beres2, jadi kupikir bakal santai-santai siangnya, lalu sore ke gereja, lalu menunggu flight jm 11 malam.  Siang ke office dulu, ngeprint e-ticket (iya, tiket pesawat lupa di print!!!). Setelah itu Dissy sms ngajak ketemu.  Sebenarnya aku udah khawatir tidak sempat ketemu, tapi karena dia toh jauh-jauh dari Jakarta dan kami perlu saling menitipkan uang, jadi kami akhirnya janjian ketemu di UCC jam 7. Kupikir setelah selesai gereja ke UCC lalu segera pulang, makan, dan berangkat.  Ternyata, seperti dibilang Murphy’s Law: it will take longer than you think; and if anything can go wrong, it will — akhirnya aku dan Chris baru makan malam jm 8, buru-buru ke apartment utk ganti baju dan ambil koper. Lalu lift di apartment sempat macet pintunya, ditambah dengan taksi yang tak kunjung muncul (muncul sih, tapi penuh semua), dan diakhiri dengan sopir taksi yang salah membelok di Changi: bukannya ke terminal keberangkatan tapi ke kedatangan. Akhirnya kami baru sampai jm 21.30 dan berlari-lari untuk check in.

Minggu, 13 Sept 09.  Di pesawat nonton The Proposal sambil makan kue.  Lumayan sih film nya, tapi terasa biasa aja. Padahal banyak orang bilang filmnya bagus sekali.  Well. Menunggu makanan dihidangkan, lalu ketiduran. Ternyata makanan dihidangkan sebagai sarapan. Jadi bangun pagi, sarapan, dan tiba-tiba tersadar: sudah hampir di Jepang ini! Sendirian pula!  Sampai di Kansai airport jam 6.30 pagi, cari tourist information, minta peta, beli kartu telepon, telepon rumah. Papa mama agak kaget ditelepon — mereka tidak menyangka aku bakal nemu kartu telepon secepat itu. Pas telepon merasa agak aneh. Yah, ini pertama kali pergi jauh tanpa mereka. (Australia tidak dihitung sih, itu kan bareng-bareng rombongan). Merasa senang bisa pergi sendiri, tapi sayang juga mereka tidak bisa ikut melihat Jepang. Merasa sudah besar karena sudah boleh pergi sendiri, tapi juga merasa tidak ingin jadi dewasa cepat-cepat. Setelah telepon lalu menunggu di terminal kedatangan. Flight Dr Beer & Mingqiang tiba jm 9. Lalu kami bertiga naik kereta ke hotel. Kira2 1 jam perjalanan. Makan siang, tidur siang, lalu pergi ke welcome reception malamnya. Tidak terlalu banyak orang datang di reception. Snack beraneka ragam enak-enak. Kenalan dgn group phd students dari Norway. Sejak waktu tidur siang sudah mulai deg-degan. Conference beneran nih, banyak gajah dan mammoth (istilahku utk menyebut prof dan prof senior), dan aku harus presentasi!!!

Senin, 14 Sept 09.  Hari pertama conference. Dibuka dg Freudenthal Lecture oleh Prof Ang. Senang juga, bayangkan, mendengar kuliah dari orang yang menulis buku pegangan yang kita pakai sejak jaman S1 sampai sekarang.  Lecture nya tidak ada yang baru sih, hanya menyimpulkan saja perkembangan2 dalam structural reliability selama tahun-tahun belakangan ini. Simulation of stochastic process, simulation-based reliability analysis, applications on geotech, offshore, infrastructure problems, epistemic & aleatory uncertainty. Ada 1 keynote lecture lagi dari Jepang. Lalu masuk ke session-session kecil. Aku ke session yang diselenggarakan Dr Beer.  Menarik juga, session ini kebanyakan orang-orang statistik / matematik murni, bukan orang teknik. Membahas cara-cara alternatif utk menganalisis uncertainty selain probability theory.  Yang dibahas terutama ttg fuzzy theory. Setelah  makan siang (enak dan macam2, ada mie kuah, nasi, aneka gorengan, aneka dumpling, salad, pasta, aneka sushi), ke session Dr Beer lagi.  Ivan Au moderatornya. Mingqiang presentasi. Dr Beer mengenalkan kita ke Ivan Au. Dia bilang ‘Anastasia is working on subset simulation’.  Sorenya ke session Application of Monte Carlo simulations — moderator Prof Shinozuka. Pengin tau aja sih, kalau-kalau ada teknik simulasi baru. Juga Shinozuka kan terkenal. A mammoth, he is. Ternyata suaranya pelan sekali. Presentasi di session itu tidak terlalu menarik. Pulang ke hotel, beli bento di supermarket, mandi, makan, latihan presentasi, baca Little House on the Prairie (dan merasa betapa hidup jaman dulu lebih sederhana — mengapa aku tidak main-main saja di padang rumput seperti Laura dan malah mencari masalah dg presentasi disini?), tidur jm 9 malam.

Selasa, 15 Sept 09. Bangun jm 7, makan pagi, berangkat bareng group Norway. Keynote lecture dari Wilson Tang tentang reliability of geotechnical problems. Membahas perlunya memperhitungkan epistemic uncertainty. Agak was was karena sejauh ini aku tidak memperhitungkan epistemic. Menenangkan diri sambil berpikir, one step at a time. Toh selama ini masih jarang yang memperhitungkan uncertainty dalam unsaturated soil, apalagi yg epistemic. Pagi itu ke session Robustness. Moderatornya agak aneh, kayak tidak menguasai bahan.  Ada 1 presenter cewek, bukan dari akademisi tapi dari konsultan, presentasinya jelas dan menarik (meskipun tidak banyak hal baru), pakai sack dress dan scarf pula. Membuatku bertekad, nanti aku jg harus presentasi yang menarik. Dan, seperti Poirot bilang “paying attention of being a woman”. Yes, yes, I am a woman, so let me show my femininity.  Untung bawa sepatu Cicik. Sayang tidak bawa sack dress.  Di session itu kenalan dg Nara, anak Thailand yang kuliah di Wisconsin Madison. Setelah makan siang, ada keynote lecture lagi ttg non-stationary random process. Siangnya ke session Robustness lagi, Dr. Beer presentasi. Bagus juga. Sorenya ke session Structural Health Monitoring. Pengen tau apa sih intinya SHM. Juga ada yg presentasi ttg matric suction, berhubungan dengan kerjaanku. Pulang bareng Jia (anak Norway), beli takoyaki sama2. Beli bento, mandi, makan, latihan presentasi (sambil melatih gerak tubuh yg lebih feminin), baca Little House, tidur. Merasa jauh lebih pede setelah 2 kali latihan presentasi. Dan setelah mengingat, I’m a woman. (agak ga nyambung ya?).

Advertisements

might have to give up the GeoFlorida paper. I’m so upset. Prof said it’s ok, but how can it be ok? We fail to generate a meaningful results, fail to meet the deadline, fail to achieve our objective.

Yet we find that the problem is more interesting than we thought.

Supposed to be working now, but feels not like to. There are many things to do: editing the Metropolis paper, thinking why the results are funny, preparing presentation, but I’m lazy 😦

Take a break? watching youtube, browsing? nothing interesting. may be I’ll just find an Agatha Christie.

 

I am happy these days because of my works (this is such a good news, isn’t it?).  First, I submitted the final paper for ICOSSAR and discussed with Profs financial plan for attending the conference. The finalization of this paper is not a big accomplishment as the major works have been done last semester. However, an acceptance letter of a paper really looks nice. And the plan to present in a conference sounds even more nice.

Second, we (Profs and I) agree to stop the extended numerical study on the Metropolis. Now I’m revising the paper and they will assess whether it is worth submitting. Surely this is not great, I have been working on Markov chain and Metropolis for more than 1 year and we are still not sure whether the final result is worth submitting. However, getting some parts done and moving to another part is relieving. I plan to get the paper done by 1 May and enjoying the labour day & weekend peacefully.

Did I mention about moving to another part? My third reason of being cheerful about my works is that I already have something in mind about what to do next when I’m wrapping up the current works. This is also new for me and I’m grateful for it. Along this 2 years of research, the part I don’t like the most is those days when the relief of finishing one part has begun to vanished and I’m still not sure what to do next. I planned to work on the probability model of the hydraulic conductivity (random field) or the rainfall (random process). I also thought that it will be good to set a conference paper as a short term goal for this work. Let’s say we will finish the model and writing a nice short paper within 3-4 months. As if answering my plan and thought, Prof informed me about an upcoming conference next year. He is organizing a section in reliability for that conference. And the summary of that section fits exactly with my thoughts: characterization of spatial variability- how to make inference from samples, simulation of random field and application of the random field model to real problems. I decide to work on the hydraulic conductivity first because literature suggests that its variability is significant. The rainfall can wait.

I also sense that my communication with Profs is getting better. Though I still feel as if I was going to see a dentist each time I present my results to them, I do think there is improvement in understanding among us.

Dari percakapan dengan beberapa orang, jadi terinspirasi untuk menulis artikel ini.

1. Apakah PhD itu?

PhD atau panjangnya Doctor of Philosophy merupakan gelar yang diberikan pada seseorang yang telah menyelesaikan studi tingkat doktoral (strata 3). Dari gelarnya dapat dilihat bahwa orang dengan gelar ini -seharusnya- berkemampuan dan berkemauan untuk menjadi seorang doktor (dalam bahasa aslinya berarti pengajar / guru) dan menguasai bidang ilmunya secara mendalam. Tidak sekedar tahu rumus-rumus dan metode-metode, tetapi mengerti benar dasar, tujuan, dan alasan dari semua rumus dan metode tersebut. Salah satu definisi lain, yang rasanya tidak salah, menyebutkan PhD sebagai Permanent Head Damage.

2. Apa bedanya gelar PhD dengan Doktor?

Tergantung bidang ilmu dan jenis studinya, ada macam2 gelar doktor, misal PhD, ThD, Doctor of … dst. Dalam penggunaan sehari2, kita menyapa orang dengan Dr A, Dr. B, bukan A, PhD. Embel2 PhD hanya disertakan di keperluan surat menyurat resmi. Atau di surat undangan nikah dan iklan kematian, kalau kamu orang Indonesia.

Di Indonesia, perbedaan PhD dan Doktor menjadi penting karena universitas2 di Indonesia belum diakui secara internasional untuk menganugerahkan gelar PhD pada seseorang. Itu sebabnya gelar yang diberikan kalau lulus S3 dari univ di Indonesia adalah Doktor, dan bukan PhD. Beberapa dosen saya di ITB dulu ga pernah mau gelarnya ditulis Doktor. Maunya PhD. Enak aja, kata mereka, sekolahnya susah buat dapet PhD!

3. Ngapain aja studi PhD itu?

Sama seperti anak TK: belajar membaca, menulis, berhitung. Yang terakhir ini bahkan tidak perlu untuk bidang studi tertentu.

Studi PhD biasanya ditempuh dalam waktu 4 – 6 tahun. Ada yang lebih singkat, kebanyakan lebih lama 😀 Di Civil Engineering Dept. NUS, rata-rata 5 tahun. Dengar-dengar di Purdue bisa 3.5 tahun dan di Univ. of Chicago bisa 9 tahun. 1 – 2 tahun awal biasanya diisi dengan mengambil kuliah-kuliah yang sekiranya akan mendukung penelitian dan meningkatkan peluang kelulusan dalam Qualifying Exam. Sisa masa studi digunakan untuk melakukan penelitian yang nantinya akan dituangkan dalam thesis / disertasi.

4. Apa saja tahapan-tahapan penting (milestones) dalam studi PhD? 

Harus lulus Qualifying Exam. Ujian ini intinya menilai penguasaan si mahasiswa PhD akan dasar-dasar bidang ilmunya. Tidak hanya terbatas pada topik penelitiannya, tetapi juga konsep-konsep dasar lain dalam bidang ilmunya. Umumnya ditempuh dalam 1-2 tahun pertama.

Harus menyusun proposal penelitian yang jelas dan mempertahankan proposal ini di depan panel yang berisi para profesor yang dirasa ahli di bidang penelitian tersebut. Umumnya ditempuh dalam 2 – 3 tahun pertama.

Memperoleh temuan hasil penelitian yang cukup layak untuk dipublikasikan dalam jurnal internasional ataupun seminar internasional. Di Civil Eng. NUS, standarnya berkisar antara 2-3 makalah jurnal dan 2-3 makalah seminar. Mengingat jurnal-jurnal teknik sipil umumnya memakan waktu 8 bulan – 1 tahun untuk proses review dan revisi saja, menerbitkan makalah dalam jurnal bukan hal mudah. Untuk mengakali hal ini, ada mahasiswa yang mengirim makalahnya ke jurnal yang editor utamanya adalah profesornya sendiri. Yes, some of us do sink that low.

5. Apa itu penelitian?

Kalau ada yang tahu, berilah saya pencerahan!

Menurut legenda, penelitian itu upaya tiada henti untuk menemukan sesuatu yang BARU dan BERGUNA. Baru artinya di seluruh dunia belum pernah ada yang melakukan seperti yang kita lakukan. Berguna artinya kita tahu hasil penelitian ini bakal dibuat apa nantinya, bukan sekedar untuk memuaskan keingintahuan saja.

Untuk bidang engineering, tidak perlu sampai menemukan rumus baru atau material baru. Yang umum dilakukan adalah menyusun metode baru untuk menghitung / mengukur sesuatu, memperbaiki metode yang sudah ada, menerapkan metode yang sudah ada untuk memecahkan kasus yang di seluruh dunia dari jaman Nuh sampai sekarang belum berhasil dipecahkan, atau combine two methods in a smart way (kata profesor saya).

6. Darimana datangnya topik penelitian?

Umumnya mahasiswa PhD sudah punya ketertarikan pada topik tertentu (dalam skala luas). Dari ketertarikan inilah kami memilih universitas / profesor  yang kira-kira sesuai. Meskipun ada pertimbangan lain, misal universitas yang menawarkan beasiswa menggiurkan. Lalu topik yang lebih dalam dan spesifik akan muncul dari hasil membaca kira-kira 100 makalah selama 1 – 2 tahun, diskusi dengan profesor, dan juga disesuaikan dengan proyek penelitian profesor saat itu, yang umumnya didanai oleh pemerintah atau industri.

7. Apa kegiatan sehari-hari mahasiswa PhD?

Bervariasi tergantung universitas, bidang studi, dan profesor.

Sebagai ilustrasi, jadwal sehari-hari saya diisi dengan melakukan perhitungan, termenung melihat hasil perhitungan yang aneh dan tidak sesuai teori, membaca makalah dan buku untuk mengecek teori dan mengecek apa ada  orang yang sudah mendului saya memecahkan hal ini, berdiskusi dengan prof tentang hasil dan langkah selanjutnya, gembira kalau sebab keanehan ditemukan, menulis makalah, di tengah menulis sadar bahwa hasil saya kurang, balik menghitung lagi, menulis, revisi sekitar 5x dari prof, datang kuliah, membuat tugas kuliah, mengajar tutorial untuk anak2 S1, mengoreksi tutorial, datang seminar khususnya yang ada makan gratis. Semua kegiatan ini umumnya memakan waktu dari 9 am – 8 pm (dipotong waktu makan dan bingung).

8. Berapa ratio kelulusan program PhD?

Yang jelas tidak 100%. Pernah dengar dari teman katanya 50-50. Hiii. Tapi selama 2 thn saya menjadi mahasiswa PhD, memang melihat beberapa teman yang memutuskan mundur (atau diputuskan oleh Prof). Merasa tidak cocok dengan kehidupan sehari-hari yang isinya berpikir, merenung, membaca, menulis,  berhitung, dan bingung. Merasa ingin bekerja yang hasilnya lebih nyata. Insinyur sipil yang kerja di konsultan, begadang 3 malam menghasilkan perhitungan struktur. Yang kerja di kontraktor, kerja keras tahu-tahu gedungnya jadi. Bagi mahasiswa PhD, begadang berujung …. makalah, yang kadang pun ditolak oleh jurnal.

9. Jadi apa setelah lulus PhD?

Oh macam-macam. Yang masih cinta proses belajar mengajar dan meneliti, jadi researcher di universitas atau lembaga-lembaga riset. Yang mau lebih praktis, jadi staf R&D di perusahaan besar (sebab perusahaan kecil ga ada R&D nya). Yang udah muak (“no more research” kata teman satu lab saya) bisa kerja di industri sesuai bidang ilmu masing-masing. Contohnya, PhD on Civil Eng. bisa kerja di konsultan struktur atau bahkan kontraktor. Yang bahkan merasa muak dengan bidang studinya, bisa jadi pengusaha, agen properti (ada ini beneran), bintang sinetron (ini juga ada), atau bahkan komikus (yang ini bukan dari civil eng sih). 

10. Apa parameter seorang PhD yang baik?

Menurut wejangan yang saya terima dari para Begawan: menguasai konsep dasar bidang ilmunya, sangat menguasai topik penelitiannya, megikuti perkembangan terkini bidangnya, dapat menemukan topik-topik penelitian yang berguna untuk kehidupan dan dapat menyumbangkan solusi bermutu dalam topik tersebut.

Menurut khalayak umum (yang menurut saya tidak tepat): banyak menulis makalah dan ikut seminar dimana-mana. Lulus dalam 3 tahun.

11.Senangkah menjadi mahasiswa PhD?

Tidak senang kalau hasil perhitungan aneh. Lebih tidak senang lagi kalau sudah begitu, prof mengkritik. Paling tidak senang saat bingung tidak tahu langkah selanjutnya. Merasa tidak berguna saat paper ditolak atau dikritik tajam.Kadang merasa aneh saat teman seangkatan di SMA atau S1 sudah jadi manager, mencicil rumah dan mobil, nikah dan punya anak, sedangkan kita masih berstatus mahasiswa.

Senang saat tahu teman yang sudah lulus PhD dapat gaji gede (ok, we’re still human). Senang saat anak S1  yang diajar mengerti hal baru. Senang saat perhitungan yang sulit dapat dipecahkan. Senang sekali saat dapat mengerti hal baru tanpa diajari siapa-siapa. Senang saat paper diterima. Senang saat melihat profesor yang bermutu –sampai tua terus belajar, masih semangat mengajar dan meneliti– dan membayangkan suatu hari kelak saya akan menjadi seperti itu.

ditulis sambil menunggu perhitungan Matlab selesai. Tulisan sudah selesai, Matlab belum.

Tulisan berikutnya seputar kehidupan mahasiswa PhD dapat dilihat disini.

Sejak kemarin, berita tentang David Widjaja, mahasiswa NTU yang (dituduh) menusuk profesornya dan bunuh diri ramai dibicarakan, terutama oleh para mahasiswa.

Dari hasil searching Google saya tahu bahwa mahasiswa tersebut punya sederet prestasi. Prestasi yang selama ini selalu saya ‘sesali’ kenapa saya tidak capai: dari SMA favorit, ikut olimpiade fisika, S1 di NTU. Sekitar 2 thn terakhir saya suka berandai-andai: kalau saya dulu masuk Loyola, mungkin saya akan dididik / dilatih sehingga bisa ikut olimpiade. Paling tidak seleksinya lah. Lalu mungkin pikiran saya akan terbuka untuk masuk NTU / NUS. Atau ke US. Lalu saya akan ambil PhD di Eropa / US. Iya, saya tahu saya ambisius. Sangat.

Kembali tentang mahasiswa yang (diduga) bunuh diri tadi. Meski belum ada pernyataan resmi tentang apa yang sebenarnya terjadi, pendapat umum mengatakan ia tertekan dengan beban studi di NTU, nilai-nilainya agak merosot belakangan (meskipun saya curiga, menilik riwayat dia, mungkin yang dibilang merosot itu dari A+ menjadi A-), dan beasiswanya ditahan. Orang2 mungkin akan berkata bahwa hal2 tersebut adalah alasan yang konyol untuk mati, tapi saya rasa saya sedikit memahami mengapa hal2 tersebut (bila memang hal2 tersebut sebabnya) bisa membuat seorang mahasiswa cemerlang mengakhiri hidupnya. Prestasi saya tentunya tidak sekaliber David. (karena itu? ) saya juga tidak pernah berpikir bunuh diri gara-gara studi. Tapi saya tahu bagaimana sedihnya mengalami kegagalan, setelah selama ini selalu berhasil. Saya tahu bagaimana frustrasinya merasa tidak berprestasi, setelah selama ini selalu cemerlang. Saya tahu bahwa ada kalanya beasiswa dihentikan, studi berjalan tidak lancar, tampak seperti akhir dunia, khususnya bagi orang2 yang (biasanya dianggap) pintar. Saya tahu bahwa disaat studi membuatmu begitu sibuk sampai tak ada waktu untuk hal lain, akhirnya kegagalan studi membuat dunia seolah runtuh. Saya tahu apa artinya hidupmu seolah berpusat pada prestasimu hingga kamu terus ingin berprestasi, lebih dan lebih lagi. Saya tahu bagaimana rasanya ingin terus dianggap pintar, karena kamu merasa itulah satu-satunya kelebihanmu.

Melalui  berita ini, saya merasa ditegur. Betapa saya kurang bersyukur. Barangsiapa diberi banyak, darinya juga dituntut banyak. Dan mungkin saya tidak siap dituntut sebanyak itu. Bila saya yang sekarang saja, dengan prestasi yang tidak secemerlang harapan saya, sudah kesulitan menerima kegagalan; apa jadinya saya kalau prestasi saya secemerlang yang saya harapkan? Mungkin saya akan jauh lebih dingin, tidak toleran, dan rapuh pada kegagalan daripada sekarang.

Really, it takes a genious not to graduate, as Erich Segal said (The Class). So I bow my head and give thanks to my Creator for not creating me as genious as I used to wish.

Catatan: saya sama sekali tidak bermaksud untuk ikut berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di NTU. Tulisan ini sekedar renungan pribadi saja.

I came to see Prof on Tuesday – after two weeks of no meeting. Feel so relieved after meeting them. During those two weeks, I feel so worried, particularly when checking emails — I’m afraid that they will ask about the results. I know this anxiety is weird: I have email them that I will take 2-3 days off to accompany my father to hospital, and also there were Chinese New Year, but still I feel so worried. But after seeing them (one on Friday, another one on Tuesday), I feel soooo relieved. They agree on what I did, and my results is not too bad.

I know this is not good: that my peace, my feeling depends on my professors’ comments on my works 😦

Minggu ini bisa bernafas agak lega sebab draft sudah di tangan Prof…menunggu dia membaca. Tapi rasanya jadi takut untuk bersantai, rasanya khawatir membuang2 waktu. Sebab sudah mengalami seperti apa rasanya kl waktu tinggal sedikit. Tapi sabtu dan minggu malam membaca Holmes…senang, rasanya seperti bertemu teman lama (hihihi agak berlebihan…tapi memang rasanya senang membayangkan ia duduk di kursi ruang tamu baker street sambil membacakan surat pada watson). Kemarin malam menyelesaikan membaca joint document on Mary.

Hari ini ada seminar tentang reliability-based design optimization. Hore, setelah sekian lama seminar ttg offshore melulu, sekarang ada yg structural reliability. melihat banyak hal dari presentasi Prof Jensen. Topiknya sama dengan paper Beck yang terakhir kubaca. Jadi bukan cuma reliability analysis tapi mencari design parameter untuk meminimalkan probability of failure. Si pembicara juga pakai subset simulation  utk melakukan reliability analysis dalam tiap proses optimization-nya. Senang mengetahui ada beberapa orang mendalami reliability sampai begitu hebatnya. Prof Jensen ini pernah di tempat Schueller juga…huhuhu bikin makin kepengen ke Innsbruck.